AHLAN WA SAHLAN....

butterfly n rose

Senin, 24 Maret 2008

Putra


Putra, lagi dia menggoreskan kisahnya. Bukanlah kisahnya yang selama ini kubaca melainkan dirinya. Ada benih rindu akan kehadiran kisah-kisahnya yang jujur mengalir. Maka mulailah kurenda buah dawatnya dalam keping disk, atau kurangkai dan kuselipkan dalam lembaran buku kuliahku. Lalu kujaga, agar tak seorang pun bisa membukanya dengan curiga.

Putra, kala musim telah berganti pancaroba, aku pernah mengawali cerita tentang rimbun hujan dan –Putra-- dia membalas dengan prasasti Tuhan. Ketika derai hujan terus mengalir dalam ceria, sedih, hening dan cemas. Putra, cukup dia katakan datanglah untuk memahat kisah.

Putra, dia pernah berkata “Waktu tak pernah salah”. Ya, waktu tak pernah salah, dia hanya membiarkan apa yang seharusnya terjadi, merelakan apa yang seharusnya pergi, serta menunda apa yang belum layak untuk tiba. Waktu, sesuai patuhnya pada Lauh Mahfudz. Dan waktu ini, kuharap adalah yang dibiarkannya menjadi.

Putra, apa yang selama ini tergambar dari kedewasaan? Padahal kami mahasiswa, sama-sama remaja muda yang membara. Aku, ada cita yang sama dia miliki, namun ada yang terurai ada yang tidak. Ada yang dinampakkan, ada yang dibiarkan terpendam saja. Seandainya lebih dulu aku deklamasikan citaku yang sama, mungkin saja aku bisa mengalahkan ketenarannya. Tapi tidak, dan biarlah tetap begitu. Yah.. sebab perempuan memang selalu merasa nyaman dengan mengalah. Hanya ego saja yang kadang membuatnya tidak mau menerima fitrahnya sendiri, padahal ego bukanlah murni dari hati.

Putra, dia tentu akan mengatakan ini. Seorang penulis kadang ingin menemukan seorang tokoh yang nyata untuk menghaluskan dan merealisasikan kisahnya. Seorang pemikir dan seorang pemimpi selalu memiliki teman yang berkelana di antara neuron-neuron imagi-nya. Cukup imagi saja, meski mungkin ada yang kasat mata, tapi biarkanlah ia berkelana dalam imagi saja, karena itu akan lebih indah. Iya kan, Putra?

Putra, tentu dia tidak bermaksud mempermainkan hati wanita, dia hanya ingin mengharumkannya dalam prosa, sastra, seni dan cinta. Meski kebanyakan dari mereka tidak mengerti. Padahal dia hanya ingin bercerita tentang sosok jelita titisan Hawa, benar kan Putra?

Tapi Putra, selalu kuraharap dia melanjutkan kisahnya tentang indah purnama di malam hari, dengan dawat merah maroon-nya, atau dengan notes kecil di sakunya. Lalu pahatlah lagi kisah indah tentang cahaya, sebab itu kisah yang paling kusuka.
Putra, lelaki dengan rambut hitam setengah berminyak yang disisir rapi, dengan celana kain yang kadang dibiarkan menutupi mata kakinya. Putra dalam kemeja bergaris merah maroon, dalam baju kaos bergambar tangan dan untaian mawar, atau dalam jaket Palestina. Biasanya dia akan menyudut seorang diri, atau berceloteh di mimbar dengan anggukan kepala.

Putra, dia selalu antusias untuk memakna kata “sastra”, sebab dia adalah sastrawan. Tapi dia lebih senang menyebut dirinya “penulis” entah apa bedanya. Putra, semoga tidak cukup hari ini….
Aku mengakhiri ketikanku, dan komputer tengah malam ini kumatikan.

Putra, besok apa yang ingin dia cerita? Apakah tentang cinta lagi?

###

2 comments:

Anonim mengatakan...

salam jejak..salam kata...
kontemplasi kata yang memikat...
sungguh

Anonim mengatakan...

ne beneran gak seh?. kalau mahasiswa berdemonstrasi berteriak "hidup revolusi", nah kalu kita yang sedang mabuk kepayang, dengan emangat yang menggebu "hidup kasih sayang". he.....1000x

Posting Komentar

dari Goodreads