
Bagi penggemar Harry Potter, dan yang sudah nonton or baca buku HP seri 3 (the Prisoner of Azkaban) tentu tahu Patronus... yakni suatu sihir yang menjadi tameng yang dipergunakan untuk melawan Dementor,makhluk yg paling menakutkan di Dunia Sihir.
untuk menggunakan mantra Patronum :
katakan "Expecto Patronum", sambil memikirkan tentang kebahagiaan yg pernah kamu alami
ada suatu filosofi menarik yg kuambil ketika Harry diajar oleh Prof.Lupin untuk menggunakan mantra ini
prof. Lupin berkata "Dementor adalah makhluk yg menyerap kebahagiaan manusia, dan menghadirkan kenangan2 buruk dan ketakutan2 dalam diri manusia. Sehingga siapa pun yg ada di sekitarnya akan merasa menjadi orang yang paling merana di dunia. maka untuk melawannya, gunakan Patronus dengan menghadirkan kenangan2 indah yg pernah kamu alami"
maka Harry pun mencoba membayangkan kenangan-kenangan indahnya, yakni kenangannya ketika pertama kali menaiki sapu terbang. Namun ternyata kenangan itu tidak menghasilkan Patronus yg hebat...
Prof.Lupin mengarahkan untuk mencoba kenangan yg lebih indah lagi, dst.. harry pun mencoba terus, sampai pada suatu ketika, Harry berhasil membuat Patronus yg sangat hebat dan sangat kuat, dan menyerupai seekor Rusa, sperti Sprongs, Animags Ayahnya
Prof. Lupin bertanya "Kenangan apakah yg sangat hebat itu?"
Harry menjawab "Sebenarnya itu bukan kenangan,Sir. Melainkan mungkin sebuah impian. Ketika membuat patronus itu, aku membayangkan bagaimana rasanya bila aku bertemu dengan kedua orang tuaku. Itulah impianku yang sangat besar"
dari kisah itu, aku memetik sebuah filosofi:
"Ketika ketakutan dan kesengsaraan melandamu, maka ingatlah kenangan2 indah yg pernah kamu alami untuk menepisnya. Maka ketakutan itu akan sirna."
"Impian dan cita-cita adalah kekuatan terbesar dari manusia yg bisa membuat dirinya mampu mengalahkan segala ketakutan yg ada dalam dirinya"
AHLAN WA SAHLAN....
butterfly n rose
Jumat, 30 Mei 2008
Filosofi Patronus
Rabu, 28 Mei 2008
20 Phrase ‘bout “The 2nd Shinny”
Suatu hari aku Chatting dengan seseorang yg sangat hebat,, apa yg bisa kupetik?? (Petik buah, petik bunga), ini nih,,, 20 phrase:
1. “ini siapa?”
2. “maaf... maaf”
3. Hmhmhm
4. “Yup! Nggak apa2”
5. “Hahaha”... “hihihi”
6. “trus..trus..”
7. “nggak... ana cuma mhsiswa biasa”
8. “...ana biasa fokus di 2 hal brsamaan...”
9. “...Dinda itu gak ada... Cuma hayalan aja...”
10. “...sederhana tp bagus”
11. “galak juga” “galak amat!”
12. “..., Fit!”
13. “nggak tahu”
14. “pantesan mi”
15. “ana mah high tech, ukh!”
16. “ana kan cuma mau jujur sm diri sendiri”
17. ... tidak untuk dipuji, tp untuk bekerja lebih keras...
18. Catatan Harian “the 2nd Shinny”
19. “2nd Shinny” has signed out
20. Entahlah...
Apa sih itu semua??
1. “ini siapa?”
Menjaga pergaulan
Dgn siapa kt berbicara itu penting! Agar kita tdk menyia2kan waktu untuk obrolan yg omong kosong, apalg obrolan yg membawa ma’shiat.
Dia berhati2 di YM!, mengingat ini t4 chatting yg (kayaknya) terbesar yg plg ramai di seluruh dunia. Banyak org di t4 ini hanya inginn mncari teman untuk berzina, berpornografi, dsb.. Na’udzubillah!! Ohya, saran sy, usahakan jgn masuk d room chat!! Org2 di dlmnya biasanya aneh2!! Chatting lah dgn ID2 dr org2 yg stidaknya tlh kamu tahu siapa.. okey??
2. “maaf... maaf”
Menjaga ucapan
Dia langsung meminta maaf atas kesalahannya, bahkan untuk kesalahn yg sekeci apa pun. Mjaga org lain jgn sampe tersinggung. Yup! Memang seharusnya begitu, kan?!
3. Hmhmhm
Eh, antum baca kan tulisanq yg banyak itu di atas? Atau antum tidur?
Berpikir atau lari ya dia?? Whatever,,, yah yg jelas, dia lebih banyak berfikir dan memahami drpd bbicara omong kosong
4. “Yup! Nggak apa2”
Mudah memaafkan org lain dan memahami karakter org lain. Membiarkan orang lain mengambil apa yg bermanfaat darinya dan membiarkan org lain berbicara dan menyampaikan apa yg ingin dsampaikn (kritik, saran, nasehat, dsb) kepadanya
5. “Hahaha”... “hihihi”
Lucu dan Humoris
Dia juga menghargai org yg mmbuat lelucon. Jd kalo chat sm dia, gak bakal garing, deh... (barangkali)
6. “trus..trus..”
Antusias
Terutama antusias akan ilmu, tiada henti mnuntut ilmu, dia mcari ilmu dr apa saja dan dari siapa saja. “Bahkan (kata dia) dari Tupai yg memanjat pohon”
7. “nggak... ana cuma mhsiswa biasa”
Rendah hati
Dia itu kujuluki sbg “mim” nya ilmu! Org yg berilmu namun rendah hati, seperti huruf “mim” di akhir kata “’ilmu”.. meliuk, merendah. Meski sudah berilmu, tp dia tdk merasa hebat. Padhl tahukah kau sodara2, dia itu enterpreneur muda, leader muda, calon dosen, dan calon presiden Keluarga Mahasiswa di kampus nya!! Wah..wah
8. “...ana biasa fokus di 2 hal brsamaan...”
Hebat! Seperti punya 2 otak dlm 2 kepala! (maksud sy duoble nya otak kanan-otak kiri)
Dgn bgitu, dia bisa mengerjakan banyak halll dalam 1 waktu. Contoh kecilnya: memperhatikan orang lain sambil baca, baca buku sambil denger musik, belajar sambil nonton TV, mungkin juga ngetik sms sambil ngobrol sama orang lain. Perilaku seperti ini sangat pas untuk orang2 yg punya segudang aktifitas dan kesibukan kayak dia. Jd semuanya bisa baeres tanpa berkata “waktu sempit banget, seperti mencekik leherku..”
9. “...Dinda itu gak ada... Cuma hayalan aja...”
Dia laki-laki biasa
Yup! Selayaknya laki2 yg mendamba wanita. Mungkin pula setiap laki2 begitu: Punya daya imajinasi yg sangat tinggi, mereka mencipta tokoh wanita idamannya dlm hayalannya, dan menceritakannya, berpuisi untuknya, seolah2 wanita itu benar2 ada. Hmhmhm... setiap org pasti punya cinta dan butuh cinta. Juga pasti menginginkan pasangan hidup. Dia menanti tulang rusuknya, kapankah dia bisa menjemputnya?
10. “...sederhana tp bagus”
Tidak segan2 memuji dan menghargai
Dia memuji dan menghargai apapun hasil karya org lain. Meski mungkin karya itu biasa2 saja, tp di aberusaha jujur sekaligus tdk ingin mengecewakn prg lain. Karena itu dia berkata “sederhana tapi bagus”
11. “galak juga” “galak amat!”
Becanda!!
Candaan yg jujur. Hehehe (emang saya waktu itu sering pake tanda seru “!” di akhir kalimat, terutama untk menanggapi “hmhm”nya dia). Yap! Dia ceplas ceplos (kadang2), tp polos n gk bikin tersinggung
12. “..., Fit!”
“...kebahagiaan dulu deh, Fit!”
“Uda tadi, Fit”
Sebenarnya “fit” ini adl sapaan di akhir kalimat yg diambil dr suku kata nama lawan bicara. Misalnya: “di” untuk “budi”, “din” untuk “udin”, atau “jen” untuk “jenny”. gaya bicara yg sperti ini adl untuk membangun keakraban. Dia mudah bersahabat dgn org lain. Dan dia senang mnyapa org dgn sapaannya sendiri yg berbeda dr sapaan org lain umumnya.
Seperti suku kata “fit” untuk Fitriani. Pdhl nama saya “indah”, biasanya dpanggil “nda” or “ndah”. Tp dia mengambil nama belakang dr “Indah Fitriani”. Baru kali ini saya disapa “fit”. Unik! Unik sekali!
13. “nggak tahu”
Karena dia benar tidak tahu
Tidak malu untuk mengakui ktidaktahuannny kalau memang dia tidak tahu. Daripada asal ngomong dan sok tahu.
14. “pantesan mi”
Roti bakar Bandung campur Coto Makassar, aneh rasanya! =P
Memakai logat/dialek daerah lwan bicara. Jd kesannya akrab. Biarpun, artikel kalimatnya salah2; “pantesan mi?” or “pantesan ji?”
15. “ana mah high tech, ukh!”
Narsis! Ini dia!
Dia salah satu org narsis selain Narsiso yg kukenal! Terbukti dari ucapannya di atas,. Terbukti juga dari penyakit jiwa nomor Romawi: “Gifo” alias Gila Foto! Fotonya tersebar dimana2, di blog, di FS, di facebook, di YM, dmn aja! Dgn berbagai pose dan situasi. Banyak banget deh pokoknya!
16. “ana kan cuma mau jujur sm diri sendiri”
Jujur!
Ya! Jujur, jujur, jujur. Itulah dia!
17. ... tidak untuk dipuji, tp untuk bekerja lebih keras...
Sebuah nasehat dari seorang pemimpin
Ini adalah advice dari dia yg paling kena! “Menurut ana, tidak ada orang yang ingin jadi pemimpin untuk dipuji, menjadi pemimpin itu jalan untuk bekerja lebih keras”
18. Catatan Harian “the 2nd Shinny”
Weblognya benar2 bingkai
Membaca blog orang ini seperti membaca Catatan Hariannya. Semua hal (mungkin) tumpah di sana. Semua kkejadian dari yg istimewa sampe yg sehari2 ada di sana. Dari tulisan yg panjang nya 7 halaman, sampai puisi yg Cuma 1 bait. Dia orang yg “friendly”, pandai bergaul n punya banyak teman. Dia terbuka, inklusif, ekstrovert! Benar2 ekstrovert!
19. “2nd Shinny” has signed out
Raib!
Ngeloyor pergi,.. kabur dari YM tanpa pamit2 dulu! Tanpa ba bi bu. Minimal ucap salam, or jawab salam, kek! Hei, anak muda! Gak sopan!
20. Entahlah...
Ini kata dariku
Entah, kapan ya bisa chatting lg? Entah, kapan ya saya bisa ketemu dengan orang sehebat dia? Entah, entahlah...
Diadaptasi dari Dialog 3 Jam, Hanya Aku Berkicau! Kasiaann... =(
at Yahoo Messengger, 24 Mei 2008
Cahaya Bulan Gie
Akhirnya semua akan tiba pd suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dauhulu?
Memintaku minum susu dan tidur yg lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah pandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yg menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
“Dengar detak jantungku!”
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
15 Place as My Imaginate Palace
Tempat-tempat yang sangat ingin kukunjungi,, (dari yang paling dekat sampe yg paling jauh):
• Pangkep: di sana orang tuaku
• Gorontalo: di sana adikku, Ayyid
• Jakarta: banyak yang tidak biasa di sana
• Bogor: di sana adikku, Aiko
• Bandung: pengen jalan-jalan ke ITB, itu kampus paling yang kuidamkan sejak SMA
• Bangka, Belitong: kampung halaman Andrea Hirata
• Malaysia (Semenanjung) : mau nyambi ke tempat K’Wahidah, K’Aisyah, K’Mae, K’Najoo, K’Sakinah, juga pengen ke Genting Highland
• Thailand: ke Halal Science Centre at Chulalongkorn University, plus meet Prof. Ekarin Zaifah, jg mau ke perkampungan Islam yang ada di sana
• Japan: negara Asia yang paling ku kagumi
• Adelaide, Aussie: ke tempatnya K’Musvidah
• Filistiin (Palestina): Negeri Anbiyaa, negri para Syuhada
• Mesir (Egypt): ke Al-Azhar University, Cairo, ke Alexandria, ke Sungai Nil dan kemana-mana
• Mecca & Medina: The Holy Land! Siapapun Muslim pasti ingin ke sana!
• United Kingdom: ketemu Keluarga Kerajaan, ke Chelsea, ketemu The Reds, The Blues, n The Three Lion, sekalian nonton Kick n Rush! Hehehe.
• Doitche (Jerman): jalan2 ke tempatnya Tina Dohna di Bremenn University, ke Stadion2 tempat Piala Dunia 2006, ke tempat2 bersejarah di sana, dll. Katanya orang2 Jerman itu yang paling ramah di Eropa, pasti seru!
Tentang Ukhuwah dan Khaulah
Malam yang gelisah, di antara seratus malam gelisahku, maka aku menulis cerita maafku dalam 3 paragraf SMS;
• Segala puji bagi Allah yg telah menghadirkan saudara-saudara sebaik kalian. Semoga Allah selalu melindungi kita dalam Islam dan menjaga kita dalam kasih sayang. Ana uhibbukunna fillah. Saudarimu, Indah
• Jika ukhuwah itu tersimpul dari pertemuan-pertemuan, maka maafkanlah diri ini yang kerap merenggangkan simpulnya. Bila jalan juang dibangun dari semangat, maka sungguh, kalian adl semangat itu. Maafkanlah diri ini karena kerap membuat kalian berkucur peluh sendiri. Doakan aku, agar tegar tak karam lagi, karena Dakwah ini adalah Bahtera yang sangat kurindu. Saudarimu, Indah
• FASHBIR ! inna wa’dallahi HAQ. Wa LAA YASTAKHIFFANKALLADZINA laa yuuqinuun (Ar-Rum: 60). Maka bersabarlah engkau! Sungguh janji ALLAH itu benar. Dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat ALLAH) itu menggelisahkan engkau. “Salam jihad selalu”. Indah “Khaulah” Fitriani
Lalu, ada balasan dari mereka;
• Akh. Yusuf: Syukron jazakillah
• Ukh. Dila KL: Inniy uhibbukalladzi ahhabtaini lahuu. Sungguh, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku karena NYA... saya juga bersyukur mendapatkan saudari sebaik anti...
• Ukh.Donty KL: Semoga ALLAH juga senantiasa melindungimu, ukhti...
• Akh. Edi FKMKI: Maksudnya? Ana tidak mengerti SMSnya, soalnya puitis sekali. Maklum anak teknik.
• Ukh. Rian K3 FKM: Amiin... tetap istiqamah di garis keyakinan... salam sayang dan keadilan dari saya untukmu teman (^_^)
• Ukh. Tian KL: Wa’alaikum salam.. Wah.. nda tau mau balas pake apa nih... kata2nya terlalu bagus, nanti malah lucu kalo saya ikutan menyair... pokoknya... FIGHTING!!
• Ukh. Radia FKMKI: Persaudaraan ini,.. tidak pernahmemberikan ruang dalam jiwa untuk bersu’udzon pd saudara, tidak ada yang men-judge anti sebagai orang bersalah kecuali anti sendiri, tapi amanah memang menuntuk kader untuk bermujahadah dalam mengembannya. Istiqomah, ukhti. Amanah menanti
• Ukh. Raran BiostatistiK: Ukh, tidak pernah ji ki merenggangkan simpul ukhuwah., yah kalo membuat kami berkucur peluh sendiri.,mmm....... lumayan.. . N terima kasih sudah mengatakan kami semangat dalam juang dakwah. N kami doakan moga dakwah yg dirindukan itu tetap ada dalam diri saudariku
• Akh. Syahban FKMKI: Iye, ane juga mohon maaf. Hari in seakan hari maaf sedunia. Sejak semalam an dapat sms terus. Sebenarnya an ingin kita semua bisa berbuat untuk FKMKI walau cuma sedikit
• Ukh. Ros Agro FKMKI: Amii...in!
• Ukh. Dila Kesling: Iya ukh, sama-sama kita saling menguatkan. Jujur saya juga butuh anti untuk tetap menapaki jalan ini. Afwan ukh, anti jangan terlalu tertutup..biarkan saudarimu ini merasakan apa yang anti rasakan entah dalam keadaan senang atau pun susah...
• Ukh. Dila KL: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada MU, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam dakwah di jalanMU, dan berjanji setia untuk membela syari’at Mu... maka kuatkanlah ikatan pertalian kami Ya ALLAH...
• Ukh. Ayu Ners: Jika kamu melihat ada benih-benih kesulitan di jalan dakwahmu yang muncul dari hati dan pikiranmu, segeralah berlindung pada ALLAH, perbaruilah keimananmu, bersihkanlah hatimu dari sifat dendam dan bersihkanlah jiwamu dari penyakit-penyakit hati. Karena semua itu termasuk tipu daya Iblis : (Fiqh Dakwah). Mari saling menguatkan, ukh. Semangat. Saudarimu, Ayu Ners
Sabtu, 24 Mei 2008
tuk Pemuda
Kepada Seluruh Mahasiswa
dari Seluruh BEM
dari Seluruh Universitas
dari Seluruh Kampus
di Indonesia
Mari lantangkan suara!
Teriakkan ini:
RI 1 TULI
RI 2 BUTA
WAKIL RAKYAT TULI, BUTA, BISU, TAK PUNYA HATI !!
Ketika...
Rakyat menderita...
Kelaparan...
Gizi buruk...
Akhirnya...
Mati di Tanah Air yang Kaya!!
Pak Presiden!
Inikah yang kau maksud "Indonesia Bisa" ??
Wakakakakak!!
INDONESIA BISA APA ?!?!?!
---time 00:01 date 23 to 24 Mei 2008
dari Aiko dan Khaulah
Dokter... Sssttt!!

oleh: Khaulah Al Fitri
Bisik-Bisik para dokter...
Semua perkataan dokter adalah rahasia
Bisik-Bisik para dokter...
Coba kau menguping!
Mungkin kau bisa tahu rahasianya
Bisik-Bisik para dokter...
Tapi apa kau mengerti apa yang diucapkannya??
Bisik-Bisik para dokter...
Oh..! rupanya mereka memakai Bahasa Latin
Bisik-Bisik para dokter...
Dalam bisiknya mereka berkata
"Kita sudah membunuh satu pasien lagi"
-- untuk 'dr.Yong Jae'
"Bayi itu benar tidak apa-apa. Ijinkan dia beristirahat lebih lama..."
-- RS Wahidin Sudirohusodo, Lontara 4
Malam Bulan Purnama Mei 2008
Jumat, 09 Mei 2008
Kekasihku yang Gagah di Gorontalo
Kalau sebelumnya saya cerita tentang Kagami Aiko di Kota Hujan. Sekarang saya mau cerita tentang Kekasihku yang Gagah di Gorontalo. Adiknya Aiko, langsung saja kusebut namanya Ahmad Muayyid, soalnya dia tidak pernah mendeklamasikan nama kerennya, dia juga bukan pujangga makanya tak butuh nama pena. Bahkan ku bilang dia itu anak yang cerdik bin licik.
Nb: kalau pulang nanti, nonton bareng bola lagi ya. Mudah-mudahan Euro 2008 nya keburu
Sesuai namannya “Muayyid” yang artinya “pendukung”, rupanya dia tumbuh menjadi remaja yang benar-benar “pendukung” alias provokator.. hehehehe. Banyak baju, tas, sepatu dll yang merek-mereknya bergengsi selalu dia dapat cuma-cuma atau dengan harga miring. Hanya dengan kelihaian kata-katanya dalam memprovokatori teman-temannya. Dasar!! Menurutku dia bisa jadi elit politik karena keahliannya ini.
Ohya, masa kecil si Muayyid ini dengan Aiko beda banget dengan saya dan Aiko. Kalau saya sebelum Aiko lahir sudah berhenti menyusu, lain si Aiko malah menyusu sama-sama dengan Ayyid sampai berebut dan menangis sama-sama. Malah waktu Ayyid baru saja dilahirkan yang menikmati ASI eksklusif pertama justru Aiko.hehehehe. Aneh banget.
Tumbuh menjejaki balita dan kanak-kanak juga beda. Saya dengan Aiko selalu akur bin damai, tapi Aiko dan Ayyid selalu baku pakacai’cai (apa yah bahasa Indonesianya??) gak di depan Tivi, gak di depan makanan. Selalu saja. Baru berhenti berkelahi kalau Mama sudah bilang
“Lihat bebek itu? Mereka selalu akur, nanti kalian berdua kukasi makan tai bebek supaya kalian akur juga”,
Ihh jijay!! Siapa yang mau makan tai bebek?? Tapi si Ayyid yang lihai kata-kata tetap menggerutu “kenapa bukan telurnya saja, kan sama ji dari bebek juga!!”.
Ayyid, Kekasihku yang Gagah inilah yang mengajari saya nonton bola sampai subuh. Paling enak memang nonton bola sama dia dan cerita tentang pemain-pemain yang jago sampai gossip-gosipnya. Kalau sudah begitu Aiko bakal bilang “apa sih bagusnya nonton bola?”. Koor kami menjawab “Wah belum tau dia!!’. Tapi yang bikin jengkel kalau si Ayyid ini sudah langganan sms bola, yang jadi sasaran pulsa adalah HP saya, tidak pake pamit-pamit lagi! Ampuuunnnn…
Ah, kekasihku yang satu ini juga raib dari Makassar, Maros dan Pangkep kami tercinta. Sekarang sedang menuntut ilmu di Gorontalo. Si provokator ini memang cerdas bin licik dan selalu bilang “jagoka toh? Jelas kau iri… hehehe”
Waktu Ramadhan kemarin dia pulang dan membawa cerita tentang Ospeknya di Husnul dan Sekolahnya di Incen. Keren begete, bo!!.
Ospeknya bertajuk “POS HK” (Pekan Orientasi Siswa Husnul Khatimah), dengan yel-yel : “POS HK, POS HK ayo kita POS HK” (nyanyikan pake irama “JABLAI”) katanya ini yel-yel yang paling lucu. Malam renungannya dia cerita tentang penculikan dengan scraft penutup mata dan digiring ke kuburan.
“Benar-benar KUBURAN , Nda! Kukira apa yang sempat ku tendang, coba-coba ku intip ternyata batu nisannya orang!! Hiiyyy”
Gak lebih sebulan, dia dihengkangkan ke Incen Gorontalo. Dan di sana dia cerita tentang kagumnya.
“Wah keren banget, Nda! Mau kuceritakan mulai dari mana? Siswa dan gurunya cerdas semua. Yang paling beda dari SMA lain itu adalah di sana kita punya Ayah Asuh yang selalu mendampingi kita dari sejak masuk kelas satu sampai lulus nanti”
“Makan cemilan di istirahat pagi dan makan siangnya diatur dengan rapi. Kita juga punya ‘kelompok makan’ yang selalu menjadi teman makan kita setiap hari, yang siswa-siswanya dari kelas 1, 2 dan 3. Biasanya sambil ngobrol, saya banyak belajar dari kakak-kakak kelas. Makanannya juga elit-elit, sampai bikin saya rindu masakan rumah yang sederhana dan enak”
“Yang hebat juga, di sana ada sarana olah raga yang lengkap sampai fitness center juga ada. Tapi biasanya fitness center itu guru-guru yang pake”
“Oh ya, asrama ku juga seru. Kumpul banyak dari berbagai daerah di Indonesia. Ada waktu untuk istirahat, waktu untuk nonton, waktu untuk belajar pelajaran umum, dan waktu untuk belajar agama. Pokoknya serba teratur, yang paling seru itu waktu untuk makan sate. Hehehe. Kapan-kapan kamu ke sana, tapi sayang gak bisa masuk asramaku kan khusus cowok.. hehehe”
Wah,,, dasar si Provokator yang jempolan! Apa ‘make-up’ nya masih sewangi yang dulu? Ah mungkin tambah wangi. Si modis yang selalu malu pakai pakaian cupu. Apa jerawatnya yang segede biji jagung itu sudah sembuh? Atau justru tambah banyak? Apa kulitnya sudah tak se-legam dulu lagi? Atau malah tambah hangus??
Ohya, kapan-kapan saya mau minta dikenalkan sama cewek-cewek cantik di sana, siapa tahu ada yang bisa kujodohkan untuknya. Hehehehe. Atau saya minta dikenalkan sama Ustadz-Ustadz muda di sana, siapa tahu ada yang cocok untuk kakaknya ini. Hehehehe (lagi)
Met berjuang, ya Kekasihku yang Gagah! Tingkatkan prestasi. Jangan lupa hafalannya dipermantap… okey!!
Makassar, 9 April 2008
-- Dari Khaulah Al-Fitri untuk Ayyid di Kota –yang katanya- Serambi Madinah
Nb: kalau pulang nanti, nonton bareng bola lagi ya. Mudah-mudahan Euro 2008 nya keburu
Selasa, 22 April 2008
Separuh Hatiku di Kota Hujan

Kagami Aiko, begitu dia menamai dirinya. Meski kelahirannya berselang satu tahun sembilan bulan setelahku, tapi sungguh, ketegarannya membuatku layak dipecundangi. Aku kini mengenalnya bukan sebagai adik semata, melainkan sebagai guru yang mengajariku tentang perjuangan dalam kehidupan.
Kini teman, ijinkan aku menguraikan kisah Aiko dengan dawat airmata di diari-ku.
Bulan ini adalah hampir setahun berselang sejak berlalunya Aiko bersama deburan angin, bersama Adam Air yang membawanya jauh ke negeri seribu keajaiban, mengantarkannya ke tanah yang selalu bangga akan kesuburannya, ke pulau yang semakin lama semakin berat menahan laju kendaraan dan jamur menaranya, ke pegunungan yang lalu mengajari tentang banjir yang dia kirimkan. Bogor kata Aiko bukan lagi “Kota Hujan” melainkan “Kota Angkot”. Dan bulan ini, serta bulan-bulan yang lama berlalu, aku selalu meredam rindu.
Ingin sekali ku hikayatkan padamu, teman. Tentang tegar dirinya. Malam, pagi dan siangnya merupakan sebuah perjalanan memori untukku. Perjalanan yang menorehkan teladan yang kaya makna.
Di Pangkep dahulu, kami tidak pernah memisah kamar. Kami membagi dipan dan bantal kami, kami membagi lemari dan pakaian kami, bahkan kami membagi meja belajar dan buku kami. Itulah yang membuat kami tidak pernah merasa memiliki sesuatu sendiri melainkan bersama. Kamar bertiang kayu dan berdinding tripleks tua itu adalah milik kami bersama. Menjadi bisu pula, karena ditinggal dua penghuninya.
Neon buram dengan jelaga di ujung-ujungnya menahtakan kamar kami, namun sinarnya tentu saja tak secerah kamar anak gadis di rumah tetangga –tetap membuat kami bersyukur “Terima kasih Bapak, kamu telah membuatkan kami kamar”-- dan Aiko, selalu saja ku dapati siluetnya dari balik remang kelambu kala malam semakin larut dengan cekamnya, berteman cicak di plafon yang berdendang dengan cit cit nya.
Siluet itu selalu terjaga dengan cahaya putih di depan meja belajarnya, dia kerasan duduk di atas bangku kayunya. Menekuri buku sekolahnya, menghafal rumus matematikanya, atau membaca kisah dalam buku sejarahnya. Lalu dini harinya dia selalu terjaga lagi, menekur lagi membaca lagi. Dan yang kuherankan paginya dia membangunkanku, lalu berkata sebelum berangkat ke sekolah.
“Sebentar saya ada ujian, jadi saya mau cepat-cepat datang, mau diskusi dulu sama teman-teman karena tadi malam saya belum belajar”
Oh teman, sebegitu tekunnya Aiko-ku mempecundangi angkuhku.
Aku selalu merasa sebagai diri yang paling jawara. Anugerah kecerdasan intelektual-ku cukup membuatku berkuasa mendiktekan pelajaran sekolah kepada Aiko. Tapi rupanya kosakataku tidak cukup untuk mendiktekan padanya tentang kecerdasan emosi. Tekun dan giatnya adalah sebuah buku yang dia tuliskan dari kantung matanya yang hitam dan ringkih posturnya yang kurus.
Aiko, dia guruku. Dia separuh hatiku yang melanglang di Kota Hujan.
Aiko, dia yang kulihat terakhir kali adalah gadis kecil bersweater merah muda –sweater yang dia pesankan dengan berkata “Belikanka sweater atau jaket di Makassar untuk persiapan, di sana nanti akan lebih dingin dari Makassar”--. Gadis kecil yang ukuran badannya dua kali lebih kecil daripada teman sebayanya itu. Kini telah ku dengar kisahnya menantang dinginnya Bogor, menyapa bekunya desau angin yang menerpa tubuhnya di atas bus subuh hari kala hujan mengguyur. Aiko, sungguh tubuhnya tak sekecil tangguhnya.
Teman, Aiko guruku sedang berjuang seorang diri di sana. Merenda masa depan yang akan dia hadiahkan untuk orang tua dan keluarga. Rantaunya sempat menjadi konflik di sekolah bagi orang-orang yang iri, tapi dia mantap dengan tekadnya untuk membuktikan pada mereka –bahkan pada dunia-- bahwa dia anak yang berbakti.
Sebuah kontemplasi memori tentang Aiko merupakan slide yang tidak pernah ingin kulupa. Biar dia berjuang disana, dan aku di sini mengabadikan jejaknya dalam album nyanyian masa kecil yang ingin ku dendang selalu. Agar dia tahu, bahwa aku selalu mendamping di tepian langkahnya seterjal apapun medannya.
Teman, mari ku ceritakan padamu tentang aku dan Aiko kala senja menjelang. Kami terbiasa duduk di beranda rumah bersama Bapak seraya memandang langit yang jingga. Horison langit nampak jelas di hadapan kami, horison yang menelan matahari di atas hamparan hijau sawah.
Lalu Aiko yang masih bocah berkata pada Bapak “Pak, bagaimana kalau kita terus jalan ke sana? Apakah itu yang dibilang ujung dunia?”, katanya sambil menunjuk horison itu.
Aku menimpali sebelum Bapak sempat menjawab “Tidak dek, kata guruku ‘bumi itu bulat, tidak ada ujungnya’. Berarti kita sekarang ada di tengah bumi, jadi kalau kita terus jalan ke sana, kita bisa jatuh di langit”
Bapak hanya tersenyum mendengar ocehan kami.
Senja jingga, kami selalu menanti terbenamnya mentari, sambil memandang awan yang bergulung tebal beraneka rupa dan berujar “awan yang di sana berbentuk apa?” . Dan di senja itu juga kami selalu menanti gerombolan burung yang mengepak sayapnya beriringan. Ada banyak gerombolan yang melayang di atas kepala kami bergantian dan kami selalu berseru “coba lihat, ini yang paling banyak burungnya”
Itu Aiko dulu yang lugu, namun sekarang aku percaya dia telah menjadi sosok gadis yang lebih dewasa. Tak ku tahu bagaimana rupaya sekarang, apakah kini semakin cerah?
Selalu. Aiko cerah dengan cinta. Cintanya pada teman sekolahnya membuatnya mengoleksi puluhan sahabat yang setia. Dialah tipikal sahabat sejati yang menemani tidak hanya dalam suka, tapi duka juga.
Aiko dan cinta, adalah dua hal yang ketika berangkai maka akan selalu mengingatkanku pada rinai hujan. Karena ku tahu cintanya ada bersama rinai itu. Di malam tanggal 29 Februari kala Nusa terbiasa dengan hujan sepanjang hari, maka dia berujar tentang rinai hujan dan cinta. Lalu kami saling meningkahi hujan malam itu dengan syukur dan rindu.
“Jika hujan deras, cobalah keluar… hitung dan rasakan titik-titik air hujan yang banyak itu jatuh dari langit… maka, sebanyak itu lah saya bersyukur punya orang tua, saudara dan keluarga sebaik kalian…”
Aiko adikku. Sungguh dia adalah pujangga cinta yang menukilkan kisahnya dalam pakeliran kehidupan, hingga pakeliran itu ramai dengan lakon sastranya.
“Sungguh Aiko, ketika hatimu rindu, maka titipkanlah rindu itu pada Allah, niscaya Dia akan memeluk hatimu dan menyampaikan rindumu kepada orang-orang yang kau cintai dengan cara-cara yang Dia kehendaki. Mungkin dengan rinai-rinai hujan, atau dengan sinaran rembulan. Semoga kita saling merindu di dunia dan saling merindu syurga-Nya…. ”
Aiko, dia yang melangkah ke dewasa, menceritakan banyak cinta kepadaku. Dari pengurus masjid hingga presiden BEM. Semoga cintanya tertambat di hati pangeran yang paling mulia yang datang dengan gagah bersama laju kudanya. Yang datang bersama segerombol kafilah yang membawa beratus ekor onta. Meminang dengan Al-Qur’an dan keshalehan. Sebab dia adalah putri bermahkotakan kecantikan rupa, laku dan hati yang tidak pantas tergadai oleh cumbu rayu semata.
Aiko, dia adik yang sebagian darahnya mengalir darah yang sama denganku. Aku bersyukur atas pertalian darah ini yang akan kami bawa hingga di akhirat nanti. Dia kucintai sejak dia masih berupa alaqah di rahim ibunda. Kala umurku belum lebih setahun, aku mencintainya dengan berhenti menyusu dan berkata : “… udah, untuk dede bayi nanti”. Ku yakin, Aiko mencintaiku bahkan lebih dari itu.
Teman, ijinkan aku memahat kata untuk Aiko.
Untuk kisahnya yang selalu maknawi
Untuk tegarnya yang selalu sejati.
Untuk cintanya yang selalu putih.
Untuk wajahnya yang selalu berseri.
Untuk senyumnya yang selalu mendamaikan hati.
Lalu bacalah dan sampaikan padanya bahwa aku menanti kisahnya selalu, dan aku di sini siap menjadikannya kias prasasti yang selalu abadi di hati. Hingga ku berujar nanti:
“Separuh hatiku terpaut di Kota Hujan, kunanti hadirnya kembali untuk datang menyempurnakan mimpi. Mimpi yang selalu kami imagikan bersama”
-- Khaulah Al-Fitri untuk Dilla di Kota Hujan….
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Aktivis Lembaga Dakwah Kampus dan Peserta diskusi Forum Lingkar Pena
Merubah Paradigma Lama untuk Revolusi Gerakan Dakwah
Sebuah renungan untuk motivasi dalam secarik halaman. Kutujukan kepada Tim Inti LDK FKMKI Unhas terutama, untuk ROHIS FKM Unhas, untuk Puskomda Sulselbar, dan untuk saudara-saudaraku yang berjuang dengan teguh di jalan dakwah ini.
Segala puji bagi Allah yang telah membuka hati ini dan menghadirkan sebuah paradigma baru. Ini terjadi pada saya. Entah apakah juga terjadi pada diri ikhwafillah yang lain. Yang jelas saya hanya ingin berbagi, semoga bermanfaat.
Sejak tampuk kepemimpinan tertinggi di kampus kita beralih kepada “Akhunna” yang baru, maka terjadi renovasi kebijakan. Dan kita sebagai jundi harus “sami’na wa atha’na”. Spesialisasi amanah untuk profesionalitas kerja. Itu tajuknya. Maka saya bertanya bagaimana? Dan akhirnya menjawab sendiri pertanyaan itu.
“Yang harus dilakukan seorang jundi bukanlah menghabiskan waktu membagi diri pada setiap pos-pos amanah, tapi justru harus menghabiskan waktu mengalikan diri sebanyak-banyaknya”
“Dakwah ini butuh ke-Tsiqoh-an pada orang lain untuk memperkuat pilar-pilar dakwah. Sementara perilaku ujub, egois dan takabbur terhadap amanah malah akan menghancurkan bangunannya”
Saya tidak menyinggung siapa-siapa melainkan diri sendiri semata. Yang selama ini terkungkung dalam kultur “membagi diri” yang berdampak pada mendzhalimi amanah dan mendzhalimi diri. Padahal Allah sangat membenci kedzhaliman.
Kultur “membagi diri” ini tak akan pernah membuat kita dewasa. Dan selamanya kita akan terkurung dalam kepompong kita yang sebenarnya kita tidak nyaman juga berada di dalamnya, tapi tidak pula cukup tangguh untuk merobeknya.
Memang kebijakan baru itu adalah aturan yang terlalu ideal. tapi ideal tentu bukan semata mimpi. Ideal itu ibarat bintang yang tak akan pernah sanggup digapai dengan jangkauan tangan. Tapi ketahuilah bahwa bukanlah bintang itu untuk digapai, melainkan sebagai penunjuk arah bagi para pelaut di tengah luasnya samudra.
Mengalikan diri, bukannya membagi! Bukankah telah ada waktu yang diberikan untuk itu??
Saatnya merubah paradigma lama kita menuju revolusi dakwah. Ini tentu tidak mudah dan tidak serta merta, sebagai revolusi yang selalu diartikan dengan “Perubahan yang secara cepat”. Perlu proses, namun prosesnya itu harus Quantum!!
Banyak hal yang be-Revolusi dengan berangkat pada suatu rintisan yang nampaknya sederhana. Seperti kisah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam yang berangkat dengan kata “Iqra”. Ummat muslim dengan persaksian “Syahadatain”. Bilal bin Rabah dengan lafadzh “Ahad”. Newton dengan fenomena “apel”. JK Rowling dengan “padang rumput dan domba”. Maka saatnya kita be-revolusi dengan berangkat pada frasa “Mari mengalikan diri !!!”
Tapi lagi-lagi, semua perlu proses untuk suatu revolusi. Dan proses untuk revolusi itulah yang paling berat rasanya. Tapi itulah sunnatullah.
Seperti sunnatullah sakit yang dirasakan ibunda untuk revolusi melahirkan jiwa baru, maka baginya Syahidah ketika dia mati. Seperti tersiksanya kupu-kupu saat berjuang untuk bebas dari kepompongnya dan merubah diri menjadi makhluk dengan rona warna yang sangat indah. Seperti mendebarkannya dua mempelai pengantin saat mengucap lafadzh ijab qabul untuk sebuah revolusi tanggung jawab hidup-mati, dunia-akhirat.
Revolusi industri Inggris pun tidak akan serta merta terjadi tanpa ada riset ilmu pengetahuan yang mendalam sebelumnya.
Semua butuh perubahan (revolusi), bergerak menuju perubahan itu berat, tapi itu niscaya. Saya jadi teringat sepenggal lagu anak-anak di Sesame Street –yang tidak begitu terkenal—yang liriknya:
“Semua bisa berubah jadi jangan bersedih. Bisa membuatmu bahagia, memberimu sesuatu yang baru”.
Mari kita berubah dan be-revolusi dengan berangkat pada perubahan paradigma “membagi diri” menjadi “mengalikannya”. Berkomitmen itu mudah, yang susah adalah konsisten dalam menjaga komitmen itu.
Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa me-ridho-i langkah kaki kita. Serta menaburkan berkah-Nya di sepanjang jalan yang kita tempuh untuk mencapai Jannah-Nya yang didamba-damba. Amiinn…
---Diketik di komputernya Akhwat di pondokan pada Makassar, 9 April 2008

