AHLAN WA SAHLAN....

butterfly n rose

Tampilkan postingan dengan label aktivita kampusiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktivita kampusiana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2008

tuk Pemuda

Kepada Seluruh Mahasiswa
dari Seluruh BEM
dari Seluruh Universitas
dari Seluruh Kampus
di Indonesia

Mari lantangkan suara!
Teriakkan ini:

RI 1 TULI
RI 2 BUTA
WAKIL RAKYAT TULI, BUTA, BISU, TAK PUNYA HATI !!

Ketika...
Rakyat menderita...
Kelaparan...
Gizi buruk...
Akhirnya...
Mati di Tanah Air yang Kaya!!

Pak Presiden!
Inikah yang kau maksud "Indonesia Bisa" ??

Wakakakakak!!
INDONESIA BISA APA ?!?!?!

---time 00:01 date 23 to 24 Mei 2008
dari Aiko dan Khaulah

Baca selengkapnya......

Selasa, 22 April 2008

Merubah Paradigma Lama untuk Revolusi Gerakan Dakwah

Sebuah renungan untuk motivasi dalam secarik halaman. Kutujukan kepada Tim Inti LDK FKMKI Unhas terutama, untuk ROHIS FKM Unhas, untuk Puskomda Sulselbar, dan untuk saudara-saudaraku yang berjuang dengan teguh di jalan dakwah ini.

Segala puji bagi Allah yang telah membuka hati ini dan menghadirkan sebuah paradigma baru. Ini terjadi pada saya. Entah apakah juga terjadi pada diri ikhwafillah yang lain. Yang jelas saya hanya ingin berbagi, semoga bermanfaat.
Sejak tampuk kepemimpinan tertinggi di kampus kita beralih kepada “Akhunna” yang baru, maka terjadi renovasi kebijakan. Dan kita sebagai jundi harus “sami’na wa atha’na”. Spesialisasi amanah untuk profesionalitas kerja. Itu tajuknya. Maka saya bertanya bagaimana? Dan akhirnya menjawab sendiri pertanyaan itu.
“Yang harus dilakukan seorang jundi bukanlah menghabiskan waktu membagi diri pada setiap pos-pos amanah, tapi justru harus menghabiskan waktu mengalikan diri sebanyak-banyaknya”
“Dakwah ini butuh ke-Tsiqoh-an pada orang lain untuk memperkuat pilar-pilar dakwah. Sementara perilaku ujub, egois dan takabbur terhadap amanah malah akan menghancurkan bangunannya”
Saya tidak menyinggung siapa-siapa melainkan diri sendiri semata. Yang selama ini terkungkung dalam kultur “membagi diri” yang berdampak pada mendzhalimi amanah dan mendzhalimi diri. Padahal Allah sangat membenci kedzhaliman.
Kultur “membagi diri” ini tak akan pernah membuat kita dewasa. Dan selamanya kita akan terkurung dalam kepompong kita yang sebenarnya kita tidak nyaman juga berada di dalamnya, tapi tidak pula cukup tangguh untuk merobeknya.
Memang kebijakan baru itu adalah aturan yang terlalu ideal. tapi ideal tentu bukan semata mimpi. Ideal itu ibarat bintang yang tak akan pernah sanggup digapai dengan jangkauan tangan. Tapi ketahuilah bahwa bukanlah bintang itu untuk digapai, melainkan sebagai penunjuk arah bagi para pelaut di tengah luasnya samudra.
Mengalikan diri, bukannya membagi! Bukankah telah ada waktu yang diberikan untuk itu??
Saatnya merubah paradigma lama kita menuju revolusi dakwah. Ini tentu tidak mudah dan tidak serta merta, sebagai revolusi yang selalu diartikan dengan “Perubahan yang secara cepat”. Perlu proses, namun prosesnya itu harus Quantum!!
Banyak hal yang be-Revolusi dengan berangkat pada suatu rintisan yang nampaknya sederhana. Seperti kisah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam yang berangkat dengan kata “Iqra”. Ummat muslim dengan persaksian “Syahadatain”. Bilal bin Rabah dengan lafadzh “Ahad”. Newton dengan fenomena “apel”. JK Rowling dengan “padang rumput dan domba”. Maka saatnya kita be-revolusi dengan berangkat pada frasa “Mari mengalikan diri !!!”
Tapi lagi-lagi, semua perlu proses untuk suatu revolusi. Dan proses untuk revolusi itulah yang paling berat rasanya. Tapi itulah sunnatullah.
Seperti sunnatullah sakit yang dirasakan ibunda untuk revolusi melahirkan jiwa baru, maka baginya Syahidah ketika dia mati. Seperti tersiksanya kupu-kupu saat berjuang untuk bebas dari kepompongnya dan merubah diri menjadi makhluk dengan rona warna yang sangat indah. Seperti mendebarkannya dua mempelai pengantin saat mengucap lafadzh ijab qabul untuk sebuah revolusi tanggung jawab hidup-mati, dunia-akhirat.
Revolusi industri Inggris pun tidak akan serta merta terjadi tanpa ada riset ilmu pengetahuan yang mendalam sebelumnya.
Semua butuh perubahan (revolusi), bergerak menuju perubahan itu berat, tapi itu niscaya. Saya jadi teringat sepenggal lagu anak-anak di Sesame Street –yang tidak begitu terkenal—yang liriknya:
“Semua bisa berubah jadi jangan bersedih. Bisa membuatmu bahagia, memberimu sesuatu yang baru”.
Mari kita berubah dan be-revolusi dengan berangkat pada perubahan paradigma “membagi diri” menjadi “mengalikannya”. Berkomitmen itu mudah, yang susah adalah konsisten dalam menjaga komitmen itu.
Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa me-ridho-i langkah kaki kita. Serta menaburkan berkah-Nya di sepanjang jalan yang kita tempuh untuk mencapai Jannah-Nya yang didamba-damba. Amiinn…

---Diketik di komputernya Akhwat di pondokan pada Makassar, 9 April 2008

Baca selengkapnya......

Selasa, 25 Maret 2008

Spiderman atau Rambo?? (bukan dua-duanya)

”Rambo tahun 70-an adalah sosok pahlawan, rambo abad 21 juga adalah pahlawan, tapi kuanggap pahlawan kesiangan.”


Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul?? yakni sosok yang mengaku diri aktifis mahasiswa yang menyandang predikat social control, tapi melakukan aksi tak bermoral?? Mereka tawuran atas nama mahasiswa dan almamater fakultas, bahkan atas nama idealisme --entah idealisme apa...
Lantas kemana sumpah mahasiswa yang selalu mereka kumandangkan setiap OSPEK yang di dalamnya ada kalimat ”...Kami mahasiswa Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa perdamaian...”. Apakah hanya sebagai kultur penyambutan maba atau hanya ajang untuk ”sok-sok-an” belaka??

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Yakni anak-anak muda yang mengaku sebagai agent of change yang tetap mempertahankan budaya ”mari binasakan maba” yang telah kuno sejak jaman bahelua??
Atau dengan aksi ”baka-bakar ban” yang selalu mereka elu-elu kan sejak jaman Reformasi 1998??

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Yakni sosok yang di setiap diskusi membicarakan ideologi dan idealisme, atau membahas birokrasi, bahkan sampai mempertanyakan eksistensi Tuhan.... yang ujung-ujungnya ditutup dengan perdebatan-perdebatan atas masalah-masalah kecil yang dibesar-besarkan, yang hanya bikin habis waktu untuk menginap di kampus.
Lalu esok siangnya, mereka akan bangun dengan rambut acak-acakan sampai tidak masuk kuliah karena mengaku telah capek begadang memikirkan nasib mahasiswa yang semakin terpuruk (entah siapa sebenarnya yang terpuruk...)

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Yakni sosok yang menjunjung tinggi Tri Darma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat-- dan selalu menyebut-nyebutnya dalam mars fakultas. Namun di kelas ujian, mereka celingukan kiri kanan dan mempraktikkan ”strategi penaklukan pengawas”, dengan jurus ”petak umpet”, ”pelampung ajaib”, atau apalah namanya. Lalu akhirnya bangga dengan nilai A yang palsu
Atau mereka yang hampir sebelas tahun ”masih setia” dengan kampusnya sampai tidak rela meninggalkannya, dengan dalih ”saya masih dibutuhkan dalam pengkaderan kampus”, atau ”lembaga masih membutuhkan saya”... kalaupun toh mereka harus pergi karena rupanya kampus yang dicintainya setengah mati sudah tidak membutuhkannya lagi, mereka segera akan meng-copy paste skripsi agar cepat dilantik pake toga, untuk jadi sarjana alias pengangguran intelek...

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Ya, beginilah....
Padahal pemuda adalah generasi membara yang siap menyala, siap membakar. Membakar kebengisan jaman yang mengajarkan kerusakan moral, bukannya membakar ban dan ”markas” lawan politiknya di LEMA

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Ya, beginilah....
Padahal pemuda adalah generasi yang memiliki tulang yang belum terpapar osteoporosis, dan otot yang belum kena rematik. Mereka harusnya siap bertempur melawan rezim atau berlari ”mengejar” koruptor dengan pikiran intelektualnya, bukannya malah gontok-gontokan dengan sesamanya atau dengan aparat keamanan, seolah ingin berkata:
”AKULAH RAMBO ABAD 21 !!”

Beginikah sosok pemuda yang di pundaknya masa depan terpikul??
Ya, beginilah....
Padahal pemuda adalah generasi yang otaknya belum pikun dan bukan pula lugu. Mereka harusnya menggunakan akalnya untuk berpikir jernih dan berpikir cerdas dengan pemahaman, serta kemauan teguh memegang prinsip.
Bukannya pemikiran yang terlalu gamang dan mudah di-provokatori. Bukan pula memakai ”kecerdasannya” untuk memikirkan ideologi dan idealisme semata tanpa ada upaya untuk mengaplikasikannya dalam kerja-kerja nyata.

Sadarlah wahai pemuda!!
Sesungguhnya tukang becak di jalan tertawa melihat ulahmu, para birokrat di rektorat geleng-geleng kepala mendengar celoteh-mu, dan orang tuamu di kampung menangis menyaksikan aksimu....

Khaulah Al-Fitri
Universitas Hasanuddin Makassar,
Sore, 12 Desember 2007

Baca selengkapnya......

dari Goodreads