Segores duka terpahat jelas di wajahnya
Kerut keningnya, redup matanya, kuyu rautnya
Membahasakan perih yang mendalam
Kerongkongannya telah tercekat garam airmata
Tapi dia seorang lelaki
Cukuplah selembar bendera putih yang dia kibarkan berkali-kali
Di tengah terik jalan metromakassar
Menghalau derum kereta-kereta yang kerap adu ego
Dia memimpin iring-iringan duka
Menjadi panglimanya meski dengan jiwa baja yang terkorosi
Tatapku menembusi jendela geser yang terpapar termal
Kusaksi dia dengan sorot sendunya, seolah berkata
“Beri kami jalan, kekasihku telah berpulang padaNYA”
AHLAN WA SAHLAN....
butterfly n rose
Senin, 02 Februari 2009
Wajah Duka
Rabu, 17 Desember 2008
Bunga-Bunga untuk Para Pewisuda

Bunga dari mahasiswa yang jenuh: 16 Juni 2008
Bunga dari mahasiswa yang skeptis: 19 November 2008
Bunga dari mahasiswa yang relijius: 19 November 2008
(klik baca selanjutnya)
Bunga dari mahasiswa yang jenuh: 16 Juni 2008
Koridor-koridor ini sudah ribuan kali kulewati. Juga kelas-kelas ini, ribuan kali kumasuki. Tapi hampa, tapi sunyi. Inikah yang dia sebut jenuh, Kawan?
Tak ada yang ku toreh di kampus ini. Entah mengapa. Aku selalu tertinggal jauh di belakang
Mahasiswa dengan Pesta, Buku dan Cinta. Juga Agenda “Kura-Kura”. Wan, kapan aku bisa memakai toga?
Silent Savana: Aku berkata kepada ayahandaku… kelak aku diwisuda dengan Lagu Darah Juang dan Sumpah Mahasiswa
Gadissurat: Kita punya pertanyaan yang sama. Hush! Kata teman “Hindari wisudaH di usia dini”
K’Ann: Semua akan indah pada waktunya ^__^
Aldrian: Kalo gak putus asa! He.. he..
Ahdian: Maksudnya? Duh gak ngerti…
Putra: 17 Nov 08/ Jenuh dengan kampus,,, 3 tahun, masuk tahun ke empat,, wajah-wajah baru, rupa-rupa lama. Dinamika! Menjemukan!
Bunga dari mahasiswa yang skeptis: 19 November 2008
Koridor sunyi. Ruang kelas menyajikan retorika hambar. Miskin realita. Bunga-bunga hanya sebatas ekspresi. Wisuda hanya sebatas ceremony. Bahkan ujian kompre hanya sebatas legalisasi
Mahasiswa mana yang tak ingin memasang toga? Aku pun menginginkannya. Tapi tidak untuk membungkus batok kepala yang kosong ilmunya.
Ah, apalah arti sarjana? Bila akhirnya menjadi cecunguk saja?
Bunga dari mahasiswa yang relijius: 19 November 2008
(Atau mungkin mereka akan lebih suka dengan Bunga ini)
Kawan-Kawanmu bersorak dengan euforia ceria. Lisanmu tak henti-henti menghatur do’a. pujilah ALLAH setinggi-tingginya! Lantaran telah kau penuhi selaksa harapan Ayah Bunda. Semoga ilmumu merebak semesta
Rabu, 10 Desember 2008
PARADE PUISI KHAULAH AL-FITRI

Aku menobatkan November 2008 sebagai Bulan Puisi. Dan kau akan selalu saja menemukan SENJA dalam setiap prosanya. Mengapa harus SENJA? Tanyakanlah itu pada Seno Gumira Ajidarma yang telah mencurinya dalam rangkaian diksi yang indah.
(Juga terimakasihku pada SIM Card yang mempromokan SMS murahnya pada segaris senyum manis seorang Gadis Kecil yang terlahir dari pasangan Penyanyi-Keyboardist . Mereka membantuku mengembangkan sastra lewat SMS- SMS Senja. hehehe)
Ekosistem Senja
Khaulah bersama K’Ann, Pengejar Layangan, Elang, IDn, YanKoer
Dari IDn
Dari K’Ann
Dari Elang
dari Pengejar Layangan
masih senja dan November (klik "baca selengkapnya")
Khaulah tuk K’Ann, Pengejar Layangan, Elang, IDn, YanKoer:
Segala Senja. Kini makin kelabu jingganya
Semakin pasi, tersebut tangan-tangan penguasa yang kian keji
Tiada hijau rona lagi
Hujan menikam sunyi
Tanpa janji
Oh, rupanya bumi semakin mati
--Di Bawah Naungan Ki Hujan, 25 November 2008
Dari IDn: Hujan membasahi bumi, member berkah buat makhlukNYA. Membelai hidup yang hampir mati. Moga kita yang hidup masih bersyukur
Dari K’Ann:Oh, gundakah kiranya hati yang lembut di sana?
Dari Elang:Bumi! Semoga hujan membuatnya hijau kembali
Pengejar Layangan
Cumulunimbus itu giat memerangkap cahaya
Cahaya itu enggan hilangkan ruah anggunnya
Pertikaian keduanya membuatku memuji
Bertasbih
Sungguh Maha Suci Ia
Khaulah
Suatu senja kusaksi mereka di atas sana
Lewat kaca geser yang memerangkap termal kota
Ada tirai berupa kabut yang berpendar merah
Kau, Layang-Layang yang gemulai terbangnya
Kian memperindahnya
--Antara Al-Aqsho dan Sahabat, 29 November 2008
Khaulah:
Senja jingga dengan kabut-kabut plumbum. Dengan aroma karbon monoksida yang merasuk alveoli! Orang-orang telah melupakan Ideologi Pantheisme mereka. Orang-orang berubah oportunis, mereka antroposentris
--Pangkep, 15 November 2008
Khaulah dan Dara
El-Zukhrufy/ 21 November 2008
MASIH TENTANG DARA:
Dara kini tertelan curiga, nyata!
Ia tahu, realita tak akan sanggup berspekulasi lagi
Meski dengan riang yang dipaksakan
Lalu senja mengajaknya merenung…
Merenung lagi, lebih dalam
Dan akhirnya,,
Dusta akan mengubah senyum jadi petaka!
El-Zhukhrufy/ 2 Desember 2008
Apa kau percaya CINTA, Cahaya?
Cinta BUKAN senyuman…
Senyum itu, tak lebih dari sebuah Bangkai Kemunafikan!
Hujaman MATA adalah muntahan murka!
Cinta buatmu JAUH,
Cahaya… pahami,, resapilah..
Khaulah:
Cahaya, aku percaya Cinta. Cinta membuat manusia percaya juga membuatnya kecewa. Cinta selalu hadirkan duka pada bahagia dan bahagia pada duka. Biarkah hujaman mata berkata “Ku telah tiba di hati”
El-Zhukhrufy/ 3 Desember 2008
Duhai, andai Dara bisa berbagi…
Sunyi dalam ramai...
Kosong!
Adalah puisi, segala teman
Tentang Kupu-Kupu, Elang dan Aiko
25 Mei 2008
Aku:
Mengapa mereka terlalu tinggi?
Terlalu tinggi seperti langit, seperti matahari, seperti bintang
Hingga tak mampu aku raih…
Oh Tuhan, mereka terlalu tinggi
Padahal aku hanya kupu-kupu bersayap indah
Namun tak mampu terbang tinggi
Aku bukan elang yang mengarungi lazuardi
Yang menembusi cakrawala
Bahkan meski aku elang, aku tetap tak mampu menggapai mereka
Oh Tuhan….
Aiko:
Untuk kupu-kupu yang bersayap indah
Perjuangan tak boleh berakhir, karena batasnya adalah helaan nafas terakhir
Usaha adalah kewajiban, karena hasil adalah hak ALLAH
Tetaplah kepakkan sayap indahmu
Karena tak ada yang mustahil di dunia ini jika kita mau berusaha
Tak perlu menjadi elang yang mengarungi lazuardi, tetaplah menjadi diri sendiri
Ganbatte!
Kamis, 27 November 2008
Bintang Berkicau Sepi

Malam gelap saja…
Biarkan bintang berkicau
Meski cuma satu dua
Inginku hanya berpuisi
Dan nyamuk-nyamuk pun bercengkrama
Menjadi pesaksi
Aku sendiri lagi
Sudahlah, itu terlalu pasti
Kereta itu meroda tiada perduli
Dunia makin kejam dengan acuhnya
Oh..
Aku sungguh rindu Bundaku
Yang bersenandung Bukit Berbunga tiap pagi
Haruskah diri ini memanja lagi?
Oleh: Khaulah Al-Fitri
--di sudut jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar
Juni 2008
Jumat, 14 November 2008
Lazuardi, Magenta, Billitonite dan Pualam

Tuk Aiko saja
Kala senja,
Lazuardi biru berubah Merah Magenta
Kini dirubahnya lagi menjadi Billitonite Hitam
Billitonite
Kuingat Belitong
Yang pesisir pantainya kemilau elegan setiap malam
###
Aku tlah berlari dari senja ke pagi
Pagi Putih Pualam
Menyeka kelam
Membias kabut malam
Bagaimana kabarmu pagi ini?
Adakah berteman Sunyi?
Cobalah bernyanyi
Aku ada menemani
...
Ku hirup pagi
dan rumput yang wangi terinjak sepatumu
Segala senja
Segala malam
Segala pagi
Kau kurindu
Kurindu
Adakah rinduku tiba padamu?
Segala Senja

Puisi-Puisi Senja November untuk Aiko, Elang, Pengejar Layangan, Gadis Cangkang, Ahdian, Liez Luchu dkk
5 November 2008
Khaulah AF:
Senja dan sunyi
Laut, burung, matahari,,
Seno Gumira telah mencuri senja itu
Lalu kucuri lagi dan kuberikan untukmu
###
Pengejar Layangan/Ridhonesia:
Hujan. Petir. Nyanyian amphibi berlendir hijau
Yang selalu tiba
Menyingkirkan layangan dari bintang biru
Khaled Hosseini gelisah..
Gadis Cangkang/Gadissurat:
Kembalikan pada tempatnya! supaya orang menganggapmu lebih matahari daripada matahari!
###
8 Nov 08
Khaulah AF:
Sapa Senja...
Mega-Mega berarak syahdu
Langit merah
Lalu berubah ungu
Mentari cerah
Kini redup pilu
Kapankah kau belah
Segala beku gugu?
O Senja
Hati sepi sudah
Adakah kau tiba?
Kau kutunggu..
Kutunggu
###
Pengejar Layangan:
Berbicara khidmat
Berbisik tenang
Bergema diam
Mungkin berkumpul karena lelah
Lalu menaro, menari
Gelap hingga lelap
Seperti hidup untuk bermimpi
Seperti merambat malam demi hadir sepi...
Gadis Cangkang:
Saya tak bisa datang hari ini. Buku-buku mengepungku di pusat kota. Saya memenuhi janji seorang teman. untuk menghadiri bedah buku yang beliau tulis sendiri
9 Nov 08
Khaulah AF:
Senja. Senja..
Selalu ada cinta berarak di balik mega-meganya
Pelintang Pulau merayu
Layang-Layang berlalu
Hujan di sini
Meningkah sunyi
Katak-katak bernyanyi
Segala senja, kutitip puisi
###
Pengejar Layangan:
Aku masih ingin merenunginya
Sebelum malam bawa kelam
Mungkin pada senja yang diam
Ketika riuh teredam
Takutku dalam maya
Aku tak temukan dia
Sungguh dianugerahi aku
Sungguh terberkahi aku,
mengetahuinya
Senin, 06 Oktober 2008
LOVE: Kunang-Kunang dan Senja
Aku adalah kunang-kunang
Dalam gelap aku terbang
Dalam gelap aku terang
Dan jadikanlah kau senja
Karena gelap kau ada
Karena gelap kau indah
Aku hanyalah kunang-kunang
Dan kau adalah senja
Dalam gelap kita berbagi
Dalam gelap kita abadi
--a poem from Love the movie
Rabu, 28 Mei 2008
Cahaya Bulan Gie
Akhirnya semua akan tiba pd suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dauhulu?
Memintaku minum susu dan tidur yg lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah pandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yg menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
“Dengar detak jantungku!”
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Senin, 24 Maret 2008
Wacana Merah Tua
Aku terpesona pada dunia maya
Yang tak terbersit kata-kata
Kebisuan… cukuplah sebagai pertanda
Bahwa kita telah memahami prosa kata
Maka janganlah kau katakana apa yang bergemuruh
di ruang dada
Karena cukup kau rasakan saja
Apa yang kita miliki hanya sepenggal baris
dalam wacana merah tua
Cukuplah kita saja yang tahu apa itu
Cukup kita saja yang tahu seperti apa
Karena orang lain mungkin akan sulit memahaminya
Kadang segalanya hanya terjadi di rongga dada
Seperti perkataan para pujangga
Kadang kenyataan tak melulu sama
Tapi cukuplah kita berkisah lewat rongga dada
Berkisah perihal hidup yang kita damba
Duhai baying-bayang yang terpapa
Kita hanya sanggup memapah
Sebab tiada lagi kuasa
Untuk mengubah imagi menjadi nyata
By: Nida Tsa’labah/ Makassar, Maret 2007
SESUATU YANG KUTULIS DI ATAS KURSI BATU

Di Sini tempat banyak orang termangu
Duduk termangu dan biarlah ingar-bingar di luar sana
Karena di sini tempat orang punya dunianya sendiri
Di dini tempat banyak orang termangu
Ambil penamu lalu tulislah sesuatu
Sesuatu yang membuat hatimu lapang
Ambil bukumu lalu bacalah sesuatu
Sesuatu yang membuat hatimu terenyuh
Ambil kameramu lalu potretlah sesuatu
Sesuatu yang membuat hatimu berkaca
Ambil gitarmu lalu mainkanlah sesuatu
Sesuatu yang membuat hatimu terguagah
Tapi, jangan kau ambil ponselmu!!
Sebab di sini bukan saatnya kau berbicara
Di sini tempat banyak orang termangu
Duduklah sambil bertopang dagu
Mumpung kamu belum dilarang untuk itu
Duduklah, lalu rasakan sedaunan kering
Berjatuhan di atas kepalamu
Duduklah, dan pilihlah sesuatu yang ingin kamu dengar
Tapi tidak perlu kamu dengar ingar-bingar itu
Sebab di sini kamu punya dunia sendiri
Di sini tempat banyak orang termangu
Duduklah seorang diri saja...atau...
Kalau kamu mau, ajaklah seorang teman
Duduk di sampingmu
Duduklah bersamanya
Dan katakanlah satu-dua patah kata saja
Katakanlah: ”Ini tempat yang artistik”,...itu saja!
Sebab di sini bukan saatnya kau berbicara banyak
Kalau kau berbicara banyak
Maka kau tidak akan bisa mendengar
Di sini tempat banyak orang termangu
Pikirkanlah apa yang ingin kau pikirkan
Bukan apa yang harus kau pikirkan
Rasakanlah apa yang bisa membuatmu tenang
Bukan apa yang bisa membuatmu gundah
Meski seringkali,
Keinginan dan keharusan tidaklah sejalan
Meski seringkali,
Apa yang membuatmu tenang
Itulah juga yang membuatmu gundah
Tapi asal kau tahu,
Di sini tempat banyak orang termangu
Dan kadang,
Orang termangu bisa mencipta dunianya sendiri
Dunia sendiri yang hanya tercipta di rongga dada
_________________________’Nda, 13 Maret 2007-06-2007
at pelataran Baruga AP. Pettarani Unhas

