Kunobatkan dia sebagai Sang Pengembara Sejati. Seorang lelaki belia yang penuh semangat. Selalu aktif dan mencari sesuatu yang baru. Pantang menyerah, bahkan segala rintangan dianggapnya sebagai tantangan yang menyenangkan. Dia selalu tertawa dan ceria di setiap kesempatan, menyapa orang-orang yang dijumpainya dengan senyumannya yang khas. Senyuman yang membuat orang merasa bisa sangat mencintainya.
Ketulusannya terpancar di matanya yang bulat jernih, dan ketika kau lihat lebih dalam ke matanya, kau akan menemukan jiwa lelaki yang sangat tangguh. Melihatnya akan membuatmu yakin bahwa masa depan akan terasa sangat baik bila dipimpin olehnya.
Kujuluki dia Sang Pengembara Sejati lantaran hobinya berkelana dan menemukan tempat-tempat yang belum pernah dijumpainya. Ajakan untuk menjelajah dari siapa saja selalu diterimanya dengan antusias! Sepertinya dia ingin mengeliingi dunia dengan kaki-kaki kokohnya.
Dia adalah sosok yang tangguh di antara lelaki-lelaki seusianya. Meskipun perawakannya kecil, namun asa yang ada di balik dadanya luar biasa besarnya. Kau takkan mengira bahwa di jari-jari kecilnya tersimpan tenaga yang besar. Dialah calon pemimpin dunia di masa depan!
Hmhm...
Mau tahu siapa Sang Pengembara Sejati itu?? baca nih biodatanya:
Nama: IBRAHIM "BAIM BONG" AL-GHIFARY.
Ibrahim: hampir semua orang tahu, ini nama seorang nabi, dia dijuluki "Hanif", sosok manusia yang lurus aqidahnya, dan 'memiliki' Tuhan di dalam hatinya, Nah. Ibrahim juga adalah nama kakek Sang pengembara Sejatti (alm) yang tidak pernah dijumpainya, karena sudah meninggal belasan tahun sebelum Sang Pengembara Sejati lahir
Al-Ghifary:
adalah nama suku di jazirah arab yang terkenal tangguh dan sangat disegani, seorang sahabat Rasul yang berasal dari suku itu bernama AbuDzar Al-Ghifary (kenal kan?) beliau sosok yang sangat pemberani. Al-Ghifary juga adalah nama Mushalla di D3 IPB, LDM Al-Ghifary, di sini ini, Aiko jadi pengurusnya
Baim:
ini panggilan yang biasa dipakai orang2 yang punya nama Ibrahim, seperti nama penyanyi mantan vokalis Ada Band yang sekarang menjadi pasangan mantan Putri Indonesia: Artika Sari Devy, juga pada nama artis Baim Wong seorang keturunan Cina yang muallaf yg banyak membintangi sinetron2. Baim juga adalah nama artis cilik yang pintar dan imut-imut pemeran utama Cinta SMA, seorang anak balita dengan pipi tembem yang lucu, (sebenarnya Sang Pengembara dinamai Baim karena mirip sekali dengan artis cilik ini)
Bong:
ni plesetan dari "Wong" nya Baim Wong, secara banyak orang jaman sekarang yg suka sabet2 nama artis biar kecipratan pamor.hehehe. Bong juga singktan dari "Kebbong" alias "Bau busuk" dalam bahasa Makassar. kenapa kebbong? gak tahulah, q suka menamainya itu, lucu! Dan mungkin bisa jd majas ironi dari "wangi"..hehehe (dasar asal!)
T4 Tgl Lahir: (perhatikan baik-baik) Pangkep, 19 April 2008
Berarti, Baim ini umurnya (terhitung sejak kuposting tulisan ini) belum genap 1 tahun! hahaha
Dia-sampai saat ini- adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Aku, Aiko, Ayyid, Pais, Piko, Acce', dan Baim...heheh. Praktis, dia adikku yang lucu n ngegemesin..!! Hm..kalau hitung-hitungan umur sih, orang2 mungkin bakal percaya kalau kubilang Baim ni anakku.hehehe..
Ciri-ciri fisik:
Mata : belo, bola pingpong, ni turunan dari Bapak e, yg sebelumnya juga diturunkan ke Aku (katanya), Ayyid, Pais n Piko.
Hidung : biasa aja, mancung gak, pesek juga gak. Yang khas, Baim suka bikin angka 11 berwarna hijau kekuning2an di bawah hidungnya.Hahaha
Bibir : kalo ini ku sering bilang "Baim si Dower", Bibir Jontor 5 centi.hehehehe.. tapi bagiku ini anggota tubuh yang paling kusukai dari seorang Baim Bong.
Pipi : gendut montok seperti bakpao atau roti pawa (roti kukus khas SulSel yang biasanya diisi kacang atau kelapa)
Gigi : saat ku tulis biodata ini, gigi Baim masih 4 biji! 2 di atas, 2 di bawah. Semuanya gigi seri susu (ya iyalah.. masak langsung geraham..) untuk 2 gigi atasnya dijuluki Gigi Cpombo' (klo diliteterkan sesuai ejaan yg benar tulisannya Gigi Spongebob) jgn lupa aksen ( ' ), berbunyi "k" halus di ujung kata Cpombo'. kadang juga Baim dijuluki Gigi La'ba' (ingat aksen ['] nya) yg berarti lebar. Coba kau lihat gigi Spongebob yang lebar, panjang n lucu itu. Mirip sekali gigi Baim. Alhasil, kalo Baim ketawa, jadinya gigi semua! Setelah mendapatkan anugrah 4 biji gigi, selain menjadi Pengembara Sejati, Baim juga meraih gelar Omnivora Sejati. Pemakan apa saja! mulai dari makanan yang memang makanan manusia, makanan hasil dapur ataupun peralatan dapur. Mulai dari yang selembek bubur tim, lalu sekeras biji-bijian, sampai besi, aluminium, baja,dsb. Dan kuasa Allah, sampai sekarang gigi2nya masih utuh 4 biji! Nih kayaknya boleh diadu dengan ahli Debus.hehehe
Telinga : Lebar, kalo diukur2 yaah..hampir selebar telinga gajah lah. Eh, jangan salah, kata orang, telinga lebar itu ciri-ciri orang jenius, (meski belum ada riset ilmiah yang membuktikannya, tapi teori ini sudah dibuktikan lewat survei dalam keluarga besar Sambung Dg Majarre') hehehe
Sekian dulu, semoga ada gambar foto Baim Bong si Dower bisa ku upload di blog ini,. Aku akan memilihkan gambar2 aksi2nya yg lucu, atau minimal Ketawa Gigi Cpombo'nya. Mungkin itu bisa jadi pengobat stress bagi kalian2 yang berkunjung.
(Semoga ada dari kalian yg bisa menyumbangkan kameranya yg beresolusi tinggi agar harapan ini dapat terwujud)
=P
AHLAN WA SAHLAN....
butterfly n rose
Senin, 02 Februari 2009
Lebih Pengembara
Minggu, 28 Desember 2008
Darah Senjaku 2: Ibu
Darah senjaku 2: Ibu
Hari Ibu bukan hanya 22 Desember, tapi hari Ibu adalah hari sejak kau merasakan napasmu yang pertama terhela
Ini napas dariku Bunda:
Dalam desah napasku Bundaku sayang, tersirat rindu terpaut kasih.
Akankah kusanggup mengeringkan luka?
Berharap menyeka airmata?
atau sekedar melipur lara
Hanya dengan mengingat rupamu, Bunda
Cukup membuatku lupa akan derita
dari Aiko:
ku sampaikan pada matahariku "Selamat Hari Ibu,, Ibuku"
dari Ashley:
My mother wants me to be her wings. TO fly as she never courage to do. I love her for that. I love the fact that she wanted to gave birth to her own wings
dari Iwan Fals:
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang, untuk aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan, Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas, Ibu...
Ingin ku dekap dan berbaring di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa ku membalas?
Ibu.. Ibu...
Rabu, 17 Desember 2008
Darah Senjaku 1: Bapak
Untuk Hari Ibu (dan Bapak juga)
Darah Senjaku kudedikasikan kepada dua orang yang menjadi wasilah penciptaan Allah. aku terlahir dari sulbi dan rusuk mereka,
Darahku yang teraliri oleh darah mereka, dagingku yang tersusun oleh daging mereka, watakku yang terangkai dari watak mereka
Darah Senja 1: Bapak
Dialah yang mengajarkanku tentang senja di setiap hari, kala aku dan Aiko kerap menyaksinya lewat dego-dego rumah. Sebuah siluet indah, langit biru-merah yang terharmonisasi dengan burung pipit dan burung gereja
Kami selalu memaknai senja sebagai waktu yang sangat indah, aku dan Aiko akan memperhatikan awan-awan tebal yang bergulung-gulung, dan kami akan memilih rupa paling indah yang dibentuknya
"Hei Dik, apa kau melihat bentuk yang sama?"
Sementara bapak bercengkerama dengan ayam-ayamnya. mengelus-elus mereka dan memasukkannya ke kandang.
Ahh...Ini sudah senja, Bapak dan Mamaku juga senja
Dulu itu, aku dan Aiko masih hijau, entah sekarang berganti warna apa...
Bapak.. Bapak, sudah terlalu lam,a kuresahkan kau dengan pembangkanganku. Tapi hati ini masih terlalu keras untuk memenuhi petuah-petuahmu. kecuali dengan kata-kata pemanis di bibir saja. Bukan untuk membohongimu. Sungguh. Ku hanya ingin meringankan beban pikiranmu saja.
Bapak, belum ada berita gembira yang kukabarkan padamu, kecuali keresahan-keresahan saja. Yang kerap menambah gurat di keningmu, menambah parau suaramu.
Aku sungguh bukan Andalan seperti yang kerap kau sebut-sebut dahulu di hadapan teman dan tetangga. Aku sungguh bukan anak yang kau idamkan sesempurna doa-doa yang kau panjatkan. Bukan. Bukan aku.
Inilah aku, tak lebih dari seorang anak pecundang dan keras kepala. Tapi meski begitu, kau masih selalu saja mengusap-usap kepalaku dan berkata "Semua anakku pintar dan kau anak terjenius yang kumiliki"
Ah Bapak.., jangan kau cekati leherku dengan tangis tertahan saat kata-katamu meluncur begitu saja dari lidah sastrawimu. seperti ketika kau mengatakan "Tugas orang tua adalah memberikan yang terbaik untuk anaknya, dan kami tidak pernah mengharap balasan apa-apa", atau saat kau berkata "Aku akan menyekolahkanmu tinggi-tinggi, meski demi itu aku harus mengorbankan semuanya, hingga yang tersisa hanyalah garam saja untuk ku makan"
Ah... Bapak, mungkin keras kepalaku benar-benar kuturuni sempurna darimu. Keras kepalamu mungkin hanya akan menusahkan dirimu saja. Hingga kau membiarkan pembuluh darah dan syarafmu kian hari kian dipenuhi sumbatan-sumbatan. membiarkan ototmu yang kian hari kian mengecil. Membiarkan lidahmu yang kian hari kian sulit mengucapkan kata dengan jelas. Membiarkan lenganmu yang kian hari kian terbatas jangkauannya. Membiarkan kakimu yang kian hari kian bergetar saat kau pakai berjalan.
Bapak...Bapak... kau sungguh keras kepala! ku tahu itu semua kau lakukan demi anak-anakmu. Demi aku, yang bahkan tak mampu menghadiahkanmu nilai IP yang tinggi, kecuali Mata Kuliah yang diulang-ulamg. Demi aku, yang tak pernah membawakanmu sekalung medali, piala atau trofi.
Maafkan aku Bapak... maaf.. kadang ku merasa mungkin sebenarnya akulah yang menyumbat pembuluh-pembuluhmu itu.
Ah...Bapak, mungkin anakmu ini terlampau payah, bahkan durhaka, hingga namamu hanya kusebut sambil lalu dalam doa-doa pendekku. Dalam sujud-sujud singkatku. Pada sepertiga malam yang selalu tertinggal tahajjudnya, tergantikan oleh buaian mimpi-mimpi...
Bapak, sungguh berdosanya aku padamu. Mungkin bila ku harus mencuci kakimu berulang-ulang. Bahkan meminum air cuciannya. Dosa-dosaku belumlah pantas untuk kau maafkan...
...
(Darah Senja 2: Mama: Dia yang bergerak diiringi jutaan prajurit malaikat)
Rabu, 10 Desember 2008
Titip Rindu Buat Ayah
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau Nampak tua dan lelah keringat menucur deras, namun kau tetap tabah. Meski napasmu kadang tersengal. Memikul beban yg makin sarat, kau tetap bertahan.
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini. Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan. Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkus. Namun semangat tak pernah pudar, meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia.
Ayah, dalam hening sepi ku rindu, untuk menuai padi milik kita. Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan anakmu sekarang banyak menanggung beban.
-Ebiet G. Ade
Jumat, 09 Mei 2008
Kekasihku yang Gagah di Gorontalo
Kalau sebelumnya saya cerita tentang Kagami Aiko di Kota Hujan. Sekarang saya mau cerita tentang Kekasihku yang Gagah di Gorontalo. Adiknya Aiko, langsung saja kusebut namanya Ahmad Muayyid, soalnya dia tidak pernah mendeklamasikan nama kerennya, dia juga bukan pujangga makanya tak butuh nama pena. Bahkan ku bilang dia itu anak yang cerdik bin licik.
Nb: kalau pulang nanti, nonton bareng bola lagi ya. Mudah-mudahan Euro 2008 nya keburu
Sesuai namannya “Muayyid” yang artinya “pendukung”, rupanya dia tumbuh menjadi remaja yang benar-benar “pendukung” alias provokator.. hehehehe. Banyak baju, tas, sepatu dll yang merek-mereknya bergengsi selalu dia dapat cuma-cuma atau dengan harga miring. Hanya dengan kelihaian kata-katanya dalam memprovokatori teman-temannya. Dasar!! Menurutku dia bisa jadi elit politik karena keahliannya ini.
Ohya, masa kecil si Muayyid ini dengan Aiko beda banget dengan saya dan Aiko. Kalau saya sebelum Aiko lahir sudah berhenti menyusu, lain si Aiko malah menyusu sama-sama dengan Ayyid sampai berebut dan menangis sama-sama. Malah waktu Ayyid baru saja dilahirkan yang menikmati ASI eksklusif pertama justru Aiko.hehehehe. Aneh banget.
Tumbuh menjejaki balita dan kanak-kanak juga beda. Saya dengan Aiko selalu akur bin damai, tapi Aiko dan Ayyid selalu baku pakacai’cai (apa yah bahasa Indonesianya??) gak di depan Tivi, gak di depan makanan. Selalu saja. Baru berhenti berkelahi kalau Mama sudah bilang
“Lihat bebek itu? Mereka selalu akur, nanti kalian berdua kukasi makan tai bebek supaya kalian akur juga”,
Ihh jijay!! Siapa yang mau makan tai bebek?? Tapi si Ayyid yang lihai kata-kata tetap menggerutu “kenapa bukan telurnya saja, kan sama ji dari bebek juga!!”.
Ayyid, Kekasihku yang Gagah inilah yang mengajari saya nonton bola sampai subuh. Paling enak memang nonton bola sama dia dan cerita tentang pemain-pemain yang jago sampai gossip-gosipnya. Kalau sudah begitu Aiko bakal bilang “apa sih bagusnya nonton bola?”. Koor kami menjawab “Wah belum tau dia!!’. Tapi yang bikin jengkel kalau si Ayyid ini sudah langganan sms bola, yang jadi sasaran pulsa adalah HP saya, tidak pake pamit-pamit lagi! Ampuuunnnn…
Ah, kekasihku yang satu ini juga raib dari Makassar, Maros dan Pangkep kami tercinta. Sekarang sedang menuntut ilmu di Gorontalo. Si provokator ini memang cerdas bin licik dan selalu bilang “jagoka toh? Jelas kau iri… hehehe”
Waktu Ramadhan kemarin dia pulang dan membawa cerita tentang Ospeknya di Husnul dan Sekolahnya di Incen. Keren begete, bo!!.
Ospeknya bertajuk “POS HK” (Pekan Orientasi Siswa Husnul Khatimah), dengan yel-yel : “POS HK, POS HK ayo kita POS HK” (nyanyikan pake irama “JABLAI”) katanya ini yel-yel yang paling lucu. Malam renungannya dia cerita tentang penculikan dengan scraft penutup mata dan digiring ke kuburan.
“Benar-benar KUBURAN , Nda! Kukira apa yang sempat ku tendang, coba-coba ku intip ternyata batu nisannya orang!! Hiiyyy”
Gak lebih sebulan, dia dihengkangkan ke Incen Gorontalo. Dan di sana dia cerita tentang kagumnya.
“Wah keren banget, Nda! Mau kuceritakan mulai dari mana? Siswa dan gurunya cerdas semua. Yang paling beda dari SMA lain itu adalah di sana kita punya Ayah Asuh yang selalu mendampingi kita dari sejak masuk kelas satu sampai lulus nanti”
“Makan cemilan di istirahat pagi dan makan siangnya diatur dengan rapi. Kita juga punya ‘kelompok makan’ yang selalu menjadi teman makan kita setiap hari, yang siswa-siswanya dari kelas 1, 2 dan 3. Biasanya sambil ngobrol, saya banyak belajar dari kakak-kakak kelas. Makanannya juga elit-elit, sampai bikin saya rindu masakan rumah yang sederhana dan enak”
“Yang hebat juga, di sana ada sarana olah raga yang lengkap sampai fitness center juga ada. Tapi biasanya fitness center itu guru-guru yang pake”
“Oh ya, asrama ku juga seru. Kumpul banyak dari berbagai daerah di Indonesia. Ada waktu untuk istirahat, waktu untuk nonton, waktu untuk belajar pelajaran umum, dan waktu untuk belajar agama. Pokoknya serba teratur, yang paling seru itu waktu untuk makan sate. Hehehe. Kapan-kapan kamu ke sana, tapi sayang gak bisa masuk asramaku kan khusus cowok.. hehehe”
Wah,,, dasar si Provokator yang jempolan! Apa ‘make-up’ nya masih sewangi yang dulu? Ah mungkin tambah wangi. Si modis yang selalu malu pakai pakaian cupu. Apa jerawatnya yang segede biji jagung itu sudah sembuh? Atau justru tambah banyak? Apa kulitnya sudah tak se-legam dulu lagi? Atau malah tambah hangus??
Ohya, kapan-kapan saya mau minta dikenalkan sama cewek-cewek cantik di sana, siapa tahu ada yang bisa kujodohkan untuknya. Hehehehe. Atau saya minta dikenalkan sama Ustadz-Ustadz muda di sana, siapa tahu ada yang cocok untuk kakaknya ini. Hehehehe (lagi)
Met berjuang, ya Kekasihku yang Gagah! Tingkatkan prestasi. Jangan lupa hafalannya dipermantap… okey!!
Makassar, 9 April 2008
-- Dari Khaulah Al-Fitri untuk Ayyid di Kota –yang katanya- Serambi Madinah
Nb: kalau pulang nanti, nonton bareng bola lagi ya. Mudah-mudahan Euro 2008 nya keburu
Selasa, 22 April 2008
Separuh Hatiku di Kota Hujan

Kagami Aiko, begitu dia menamai dirinya. Meski kelahirannya berselang satu tahun sembilan bulan setelahku, tapi sungguh, ketegarannya membuatku layak dipecundangi. Aku kini mengenalnya bukan sebagai adik semata, melainkan sebagai guru yang mengajariku tentang perjuangan dalam kehidupan.
Kini teman, ijinkan aku menguraikan kisah Aiko dengan dawat airmata di diari-ku.
Bulan ini adalah hampir setahun berselang sejak berlalunya Aiko bersama deburan angin, bersama Adam Air yang membawanya jauh ke negeri seribu keajaiban, mengantarkannya ke tanah yang selalu bangga akan kesuburannya, ke pulau yang semakin lama semakin berat menahan laju kendaraan dan jamur menaranya, ke pegunungan yang lalu mengajari tentang banjir yang dia kirimkan. Bogor kata Aiko bukan lagi “Kota Hujan” melainkan “Kota Angkot”. Dan bulan ini, serta bulan-bulan yang lama berlalu, aku selalu meredam rindu.
Ingin sekali ku hikayatkan padamu, teman. Tentang tegar dirinya. Malam, pagi dan siangnya merupakan sebuah perjalanan memori untukku. Perjalanan yang menorehkan teladan yang kaya makna.
Di Pangkep dahulu, kami tidak pernah memisah kamar. Kami membagi dipan dan bantal kami, kami membagi lemari dan pakaian kami, bahkan kami membagi meja belajar dan buku kami. Itulah yang membuat kami tidak pernah merasa memiliki sesuatu sendiri melainkan bersama. Kamar bertiang kayu dan berdinding tripleks tua itu adalah milik kami bersama. Menjadi bisu pula, karena ditinggal dua penghuninya.
Neon buram dengan jelaga di ujung-ujungnya menahtakan kamar kami, namun sinarnya tentu saja tak secerah kamar anak gadis di rumah tetangga –tetap membuat kami bersyukur “Terima kasih Bapak, kamu telah membuatkan kami kamar”-- dan Aiko, selalu saja ku dapati siluetnya dari balik remang kelambu kala malam semakin larut dengan cekamnya, berteman cicak di plafon yang berdendang dengan cit cit nya.
Siluet itu selalu terjaga dengan cahaya putih di depan meja belajarnya, dia kerasan duduk di atas bangku kayunya. Menekuri buku sekolahnya, menghafal rumus matematikanya, atau membaca kisah dalam buku sejarahnya. Lalu dini harinya dia selalu terjaga lagi, menekur lagi membaca lagi. Dan yang kuherankan paginya dia membangunkanku, lalu berkata sebelum berangkat ke sekolah.
“Sebentar saya ada ujian, jadi saya mau cepat-cepat datang, mau diskusi dulu sama teman-teman karena tadi malam saya belum belajar”
Oh teman, sebegitu tekunnya Aiko-ku mempecundangi angkuhku.
Aku selalu merasa sebagai diri yang paling jawara. Anugerah kecerdasan intelektual-ku cukup membuatku berkuasa mendiktekan pelajaran sekolah kepada Aiko. Tapi rupanya kosakataku tidak cukup untuk mendiktekan padanya tentang kecerdasan emosi. Tekun dan giatnya adalah sebuah buku yang dia tuliskan dari kantung matanya yang hitam dan ringkih posturnya yang kurus.
Aiko, dia guruku. Dia separuh hatiku yang melanglang di Kota Hujan.
Aiko, dia yang kulihat terakhir kali adalah gadis kecil bersweater merah muda –sweater yang dia pesankan dengan berkata “Belikanka sweater atau jaket di Makassar untuk persiapan, di sana nanti akan lebih dingin dari Makassar”--. Gadis kecil yang ukuran badannya dua kali lebih kecil daripada teman sebayanya itu. Kini telah ku dengar kisahnya menantang dinginnya Bogor, menyapa bekunya desau angin yang menerpa tubuhnya di atas bus subuh hari kala hujan mengguyur. Aiko, sungguh tubuhnya tak sekecil tangguhnya.
Teman, Aiko guruku sedang berjuang seorang diri di sana. Merenda masa depan yang akan dia hadiahkan untuk orang tua dan keluarga. Rantaunya sempat menjadi konflik di sekolah bagi orang-orang yang iri, tapi dia mantap dengan tekadnya untuk membuktikan pada mereka –bahkan pada dunia-- bahwa dia anak yang berbakti.
Sebuah kontemplasi memori tentang Aiko merupakan slide yang tidak pernah ingin kulupa. Biar dia berjuang disana, dan aku di sini mengabadikan jejaknya dalam album nyanyian masa kecil yang ingin ku dendang selalu. Agar dia tahu, bahwa aku selalu mendamping di tepian langkahnya seterjal apapun medannya.
Teman, mari ku ceritakan padamu tentang aku dan Aiko kala senja menjelang. Kami terbiasa duduk di beranda rumah bersama Bapak seraya memandang langit yang jingga. Horison langit nampak jelas di hadapan kami, horison yang menelan matahari di atas hamparan hijau sawah.
Lalu Aiko yang masih bocah berkata pada Bapak “Pak, bagaimana kalau kita terus jalan ke sana? Apakah itu yang dibilang ujung dunia?”, katanya sambil menunjuk horison itu.
Aku menimpali sebelum Bapak sempat menjawab “Tidak dek, kata guruku ‘bumi itu bulat, tidak ada ujungnya’. Berarti kita sekarang ada di tengah bumi, jadi kalau kita terus jalan ke sana, kita bisa jatuh di langit”
Bapak hanya tersenyum mendengar ocehan kami.
Senja jingga, kami selalu menanti terbenamnya mentari, sambil memandang awan yang bergulung tebal beraneka rupa dan berujar “awan yang di sana berbentuk apa?” . Dan di senja itu juga kami selalu menanti gerombolan burung yang mengepak sayapnya beriringan. Ada banyak gerombolan yang melayang di atas kepala kami bergantian dan kami selalu berseru “coba lihat, ini yang paling banyak burungnya”
Itu Aiko dulu yang lugu, namun sekarang aku percaya dia telah menjadi sosok gadis yang lebih dewasa. Tak ku tahu bagaimana rupaya sekarang, apakah kini semakin cerah?
Selalu. Aiko cerah dengan cinta. Cintanya pada teman sekolahnya membuatnya mengoleksi puluhan sahabat yang setia. Dialah tipikal sahabat sejati yang menemani tidak hanya dalam suka, tapi duka juga.
Aiko dan cinta, adalah dua hal yang ketika berangkai maka akan selalu mengingatkanku pada rinai hujan. Karena ku tahu cintanya ada bersama rinai itu. Di malam tanggal 29 Februari kala Nusa terbiasa dengan hujan sepanjang hari, maka dia berujar tentang rinai hujan dan cinta. Lalu kami saling meningkahi hujan malam itu dengan syukur dan rindu.
“Jika hujan deras, cobalah keluar… hitung dan rasakan titik-titik air hujan yang banyak itu jatuh dari langit… maka, sebanyak itu lah saya bersyukur punya orang tua, saudara dan keluarga sebaik kalian…”
Aiko adikku. Sungguh dia adalah pujangga cinta yang menukilkan kisahnya dalam pakeliran kehidupan, hingga pakeliran itu ramai dengan lakon sastranya.
“Sungguh Aiko, ketika hatimu rindu, maka titipkanlah rindu itu pada Allah, niscaya Dia akan memeluk hatimu dan menyampaikan rindumu kepada orang-orang yang kau cintai dengan cara-cara yang Dia kehendaki. Mungkin dengan rinai-rinai hujan, atau dengan sinaran rembulan. Semoga kita saling merindu di dunia dan saling merindu syurga-Nya…. ”
Aiko, dia yang melangkah ke dewasa, menceritakan banyak cinta kepadaku. Dari pengurus masjid hingga presiden BEM. Semoga cintanya tertambat di hati pangeran yang paling mulia yang datang dengan gagah bersama laju kudanya. Yang datang bersama segerombol kafilah yang membawa beratus ekor onta. Meminang dengan Al-Qur’an dan keshalehan. Sebab dia adalah putri bermahkotakan kecantikan rupa, laku dan hati yang tidak pantas tergadai oleh cumbu rayu semata.
Aiko, dia adik yang sebagian darahnya mengalir darah yang sama denganku. Aku bersyukur atas pertalian darah ini yang akan kami bawa hingga di akhirat nanti. Dia kucintai sejak dia masih berupa alaqah di rahim ibunda. Kala umurku belum lebih setahun, aku mencintainya dengan berhenti menyusu dan berkata : “… udah, untuk dede bayi nanti”. Ku yakin, Aiko mencintaiku bahkan lebih dari itu.
Teman, ijinkan aku memahat kata untuk Aiko.
Untuk kisahnya yang selalu maknawi
Untuk tegarnya yang selalu sejati.
Untuk cintanya yang selalu putih.
Untuk wajahnya yang selalu berseri.
Untuk senyumnya yang selalu mendamaikan hati.
Lalu bacalah dan sampaikan padanya bahwa aku menanti kisahnya selalu, dan aku di sini siap menjadikannya kias prasasti yang selalu abadi di hati. Hingga ku berujar nanti:
“Separuh hatiku terpaut di Kota Hujan, kunanti hadirnya kembali untuk datang menyempurnakan mimpi. Mimpi yang selalu kami imagikan bersama”
-- Khaulah Al-Fitri untuk Dilla di Kota Hujan….
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Aktivis Lembaga Dakwah Kampus dan Peserta diskusi Forum Lingkar Pena

