Suatu hari aku membaca sebuah artikel yang bertajuk Sepucuk Surat dari Aktifis Dakwah FSLDK. Isinya sangat menyentuh dan membangkitkan ghirah dakwahku yang saat itu sedang surut. Lalu aku tidak merasa perlu untuk meminta izin pada siapa-siapa untuk memposting tulisan ini karena aku merasa siapapun berhak untuk membacanya.
Surat ini adalah tulisan dari seorang aktifis Lembaga Dakwah Kampus bernama Ukhti Uni, aku tidak tahu pasti di kampus mana tepatnya dia. Namun kuketahui bahwa dia dengan ghirohnya tak pernah lelah melakukan kerja-kerja dakwah meski penyakit kanker menggerogoti tubuhnya. Dan aku juga tidak tahu apakah saat ini dia telah sembuh dari penyakitnya atau justru telah menemui Rabbnya. Tapi yang pasti, siapapun dan dimanapun dirinya berada, aku berharap Semoga Allah mencintainya selalu…
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.
Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.
Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )
Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?
Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!
Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?
Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!
Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.
‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?
SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….
Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.
Bayangkan ……………..
Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.
Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.
Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.
Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.
Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.
Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.
Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!
Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!
Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.
Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!
Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi. Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti
Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!
Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!
Ukhti Uni
AHLAN WA SAHLAN....
butterfly n rose
Selasa, 03 Maret 2009
Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK
Sabtu, 28 Februari 2009
Mutarabbiyahku adalah Murabbiku
Balasan dari suratmu, kutuliskan di sini. Kuharap kau tak keberatan. Akan kusediakan hard copy-nya kalau kau mau.
Sebenarnya sudah lama aku ingin memposting tulisan tentangmu, Adikku. Di Blog ku yang sederhana ini, agar semua orang yang mengunjungi blog ini tahu, betapa berharganya dirimu. Dan sungguh tidak pantas diri ini menjadi seorang yang seyogyanya membimbingmu, karena dari dirimulah sebenarnya kuterima banyak sekali pelajaran berharga.
Aku mengenal dirimu sebagai sosok yang istimewa dibanding akhwat-akhwat lainnya. Masih terekam di benakku, ketika pertama kali kau berkata bahwa cita-citamu adalah bagaimana menjadi seorang Mukminah yang akan menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Saat itu, kau masih seorang Mahasiswa Baru yang bahkan belum sempat mengecap dakwah kampus, tapi kau telah memiliki cita-cita yang sangat luhur! “Ku anfusakum wa ahlikum nara”, kuyakin, kau tak kan sebatas mengatakannya.
Adikku, darimu aku belajar bagaimana seorang wanita memperjuangkan fikrahnya di dalam keluarga yang sangat tidak mendukung aktifitas-aktifitas keislamanmu. Darimu pula aku belajar bagaimana melihat peluang dari hal-hal yang jarang sekali dipikirkan oleh orang lain. Kau tahu? Aku juga belajar berbisnis darimu.
Semangatmu yang selalu membara, rasa ingin tahumu yang luar biasa, ide-idemu yang brilian, serta keberanian dan kejujuranmu yang murni tanpa tendensi apa-apa membuatku merasa sangat tidak pantas menjadi seseorang yang ‘berdiri di atasmu’.
Kau tahu, Adikku, kau bisa saja mempecundangiku dalam segala hal. Memasak, menulis, berbisnis, berkreasi, berbahasa Inggris, dsb. Ku yakin, kau akan selalu menang.
Kadang aku merasa betapa munafiknya diriku di hadapanmu. Yang dengan tangan ini tak pernah memberikan jasa apa-apa dalam membangun dakwah. Yang dengan lisan ini tak sanggup menyampaikan apa-apa dalam nasehat dakwah. Dengan maknawiyah diriku yang sangat memprihatinkan, dengan ruhiyahku yang sangat lemah. Hingga aku merasa tak lebih dari seorang jahil yang bersembunyi di balik kerudung takwa. Terlebih bila harus berhadapan dengan dirimu, Adikku.
Adikku, berulang kali kukatakan padamu, jangan pernah mengidolakanku apalagi memfigurkanku. Karena, bagaimana pun diri ini tidak akan pernah sempurna. Akan ada saat dimana kau akan kecewa. Figurkanlah Rasulullah, bukankah itu yang selalu kukatakan padamu?
Nyatanya, kau benar-benar telah kecewa padaku. Lantaran kabar yang berhembus entah darimana hingga ke telingamu. Sebenarnya kabar-kabar itu telah sampai juga padaku, namun selalu kuanggap angin lalu. (Lihatlah betapa cueknya diriku). Sungguh, aku tak menyangka hal itu akan sangat mempengaruhimu.
Tapi tentu tak kan ada asap bila tak ada api. Aku menginstrospeksi diri. Lalu ku tersadar, mungkin ini teguran dari Allah agar aku lebih merapatkan hijab yang belakangan ini sangat kedodoran.
Sungguh, aku telah memaafkan prasangka burukmu itu. Bahkan akulah yang sebenarnya salah karena telah menjadi sebab munculnya prasangka itu. Maafkan aku, Adikku. Juga terima kasihku karena kau telah menyampaikan prasangkamu dengan terus terang di hadapanku.
Tapi tak ada gading yang tak retak. Maka, suatu saat bila, kau menemukan keburukan dariku, jangan pernah kau ikuti! Sampaikanlah padaku, agar aku bisa merubahnya. Bukankah orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam kebaikan?
Ah…, rasanya diri ini terlalu banyak menghadirkan kekecewaanmu. Terlalu banyak menjengkelkanmu. Terlalu banyak keburukan yang kulakukan. Maka maafkan aku, kumohon.
Oh, Adikku, kau tahu. Begitu irinya diriku ketika mengetahui bahwa kau pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Setiap mengingat bahwa orang yang mulia itu adalah dirimu, selalu saja kuingin menitihkan airmata. Di satu sisi aku tersadar, betapa lemahnya iman ini dan betapa tidak pantasnya aku menjadi penasehatmu, tapi di sisi lain aku sangat bahagia karena telah mengenalmu dan menjadi orang yang dipercayakan Allah sebagai Murabbiyahmu.
Membaca suratmu, sungguh membuatku terharu. Terima kasih atas perhargaanmu yang rasanya terlalu tinggi untuk kusandang. Tapi adikku, aku dilanda ketakutan, mungkin aku tak se ‘cantik’ yang kau mimpikan. Tak seindah yang kau harapkan. Sekali lagi, maafkan aku. Kakakmu yang selalu saja memberikan gelas yang tak berisi air pada saat kau kehausan. Yang tak sanggup menjadi oase untuk menyejukkan dahagamu.
Maafkan.
Adikku, doa-doaku untukmu kugemakan di hatiku, kuucapkan di sudut bibirku dengan lirih. Entah kau kan mendengarnya, entah para malaikat kan mengaminkannya, tapi kuyakin, Allah akan mengijabahnya. Ku doakan selalu yang terbaik bagimu. Ku doakan agar Allah selalu membimbingmu. Ku doakan agar hidayah Allah terus tercurah atasmu dengan atau tanpa diriku. Dan jadilah orang yang selalu dekat padaNya.
Lalu suatu saat nanti lupakanlah aku. Ku mohon lupakanlah aku….
Khaulah Al-Fitri
Makassar, 27 Februari 2009
Rabu, 10 Desember 2008
Diary Ramadhan yang Tercecer:
Ramadhan to Dzhulhijjah. Antara lebaran dan lebaran, baru kali ini kupenuhi janjiku untuk menulis postingan tentang Ramadhan 1429h-ku. Tapi tiadalah yang basi tentang Ramadhan, karena dia selalu didamba di setiap tahun
Malam 1 Ramadhan 1429 H: Aku akan menjadi manusia yang lebih baik. Mulai Ramadhan ini hingga seterusnya. Menjadi seorang pekerja keras dan tidak akan malas, apalagi terbuati angan-angan. Bismillah…
Aku harus membuat revolusi di FKMKI, kuliah, puskomda, ROHIS. Aku harus menebus keterpurukanku dengan cercagai cara yang cerdas, kreatif, efektif. Manage semuanya baik-baik. Allahu Akbar!!
1 Ramadhan: Dunia sungguh kejam bagi orang-orang yang tidak disiplin
2 Ramadhan: dari Aya dan Azzam (Sinetron Ramadhan Para Pencari Tuhan) : Mengapa orang yang saling mencintai justru akan saling menyakiti?
4 Ramadhan: ibrah dari Aku ‘vs’ Bu Chandra. Aku takut mengahadap manusia karena telah berbuat kesalahan. Maka Allah, aku tersadar, di akhirat nanti ketakutan itu akan jauhlebih besar. Maka ampunilah hamba dari segala dosa. Sehingga ketika aku menghadapMU kelak, ketakutanku adalah karena keMahaPerkasaan-Mu dan ijinkan aku bahagua berada di sisiMu yang mulia
8 Ramadhan: orang-orang tidak akan menemukan karya ketika dia tidak mempublikasikannya. Kesalahanku selama ini adalah karena tidak pernah selesai untuk memulai
9-11 Ramadhan: “Kenapa bergetar, Indah? Bicaramu kacau! Sorot kecerdasan itu merasukimu!” Jangan! Jangan! Aku takut luar biasa! Mereka berceloteh tentang “serasi” dan orang itu. Oh, itu sungguh indah. “Hei Indah, mengapa berbunga-bunga?”
11 Ramadhan dst: Aku merindukannya di setiap buku, lego-lego, koridor, dan aroma rumput pagi.
13 Ramadhan: untuk Ukh.Vina, aku begitu mengagumimu. Sungguh. Meski kau kerap mengatakan bahwa kau tidak memiliki apa-apa dan tidak tahu apa-apa. Tapi sungguh, kau punya semangat yang membuatku iri. Sense of Belongingmu terhadap dakwah ini sungguh besar. Kau kerap mengatakan iri pada FKM yang banyak kadernya. Tapi sungguh, ukhti, kader-kader Agro jauh lebih militant.
13 Ramadhan: How Fresh! Hari ini, aku bertemu dengan orang-orang baru di MAKES, Masjid Al-Markaz Al Islamy Makassar. Awalnya iseng-iseng saja aku ke sana. Ternyata, They all so Great!! Good Community! Knowledge, Language, Friendship. Ku kan tingkatkan semuanya. Moga dirahmati Allah. Amin
13 Ramadhan: ini yang kupelajari: setiap kita berazzam untuk menjadi lebih baik, maka kita akan bertemy dengan orang-orang yang baik pula. If there is a will, there is a way. “Ud’uni astajib lakum” (Berdoalah maka akaum AKU kabulkan)
17 Ramadhan: Pak Anwar “Hal yang membedakan negara miskin dengan Negara maju adalah Kepercayaan Diri dan Kemauan yang Kuat”
18 Ramadhan: K’Tambra “Hal yang membedakan orang-orang di Negara maju dengan Negara kita adalah Semangat dan kesungguhan mereka ‘They always keep in spirit!’, mereka selalu bersungguh-sungguh dan pantang menyerah dalam menjalankan sesuatu.
Pekan ke3 Ramadhan: Catatan dari Bedah Film Turtles Can Fly:
- Cinta yang dangkal? Hei, seperti apakah cinta yang dalam yang kau maksudkan?
- Film-film yang dari Arab, Irak, Afganistan, dsb biasanya bertempo lambat dan menceritakan tentang perjalanan religius seseorang
- Ending dari Film Turtles Can Fly menyiratkan bahwa ini adalah awal dari kelahiran seorang tokoh dan pergerakan yang besar
- Taksonomi bertanya: “Apa, Siapa, Dimana” untuk menanyakan konteks, “Bagaimana” untuk menanyakan substansi, “Kenapa” untuk menanyakan nilai/norma
- Orang-orang mengingat hal-hal yang dianggapnya penting saja. Ku rasa aku akan mengingatmu juga
19 Ramadhan: seorang Ustadz dalam ceramah terawihnya
- Manusia terlalu rindu akan sejarah dirinya
- Agama datang untuk menyadarkan manusia akan janjinya dulu di alam roh… Arasy bergetar ketika janji itu dilanggar…
- Janji adalah sesuatu yang sakral
- Jangan gunakan logika ketika berbicara pahala. Melihat hal-hal yang ghaib tidak dengan mata, melainkan dengan keimanan.
20-an Ramadhan: seorang Ustadz di Al-Markaz “I think you must to manage your time. Not the time manage you”
25 Ramadhan: Hari ini aku bahagiaaaa sekali! Kenapa? Karena aku bahagia! Itu saja!
25 Ramadhan: Kapiltalis, individualis, spritualis, narsis, gingitivis (lho?), osteoporosis (hehe). Hei, bagaimana dengan Aliansi Seniman dan Sastrawan Ternama yang kita bentuk? Setelah nonton Laskar Pelangi, mungkin kita bisa launching di Nusa Dua Bali. Hehehe
26 Ramadhan: Aku sakit demam! Bukan Demam Berdarah! Bukan Chikungunya! Bukan Demam Tulang! Bukan Yellow Fever! Bukan! But I really really sick! Fever! Laskar Pelangi Fever! Tapi aku tak mau sembuh. Hehehe…
30 Ramadhan: Yup, awa’ pulang kampuang juga, banyak budak-budak disini, bikin seronok dan gaduh. “Sekolah ni kan tak boleh ditutup”
1 Syawal: Shalat Ied di Masjid Mujahidin Pangkep, yang paling berkesan adalah khotbah Idul Fitrinya. Inilah Ied pertama yang sangat berkesan di hidupku. Khotbah dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Noer Bachry Noor, Msc, PhD, beliau adalah dosen yang sangat kubanggakan di FKM Unhas, dia juga sahabatnya kakekku. Teringat, Beliau pernah menjitak kepalaku dengan lembut, sambil berkata “Kau secakep dan secerdas kakekmu”. Hehehe ^_^
Senin, 09 Juni 2008
Angsa Ukhuwah

Angsa Ukhuwah ini sebagai perlambangan diri kami yg tergabung dalam Kader Dakwah di FKM,, kita adalah angsa-angsa yg berkelompok dalam formasi teratur,,
Saudaraku, tahukah kamu ttg Ibrah dari Migrasi Angsa?
Mereka membentuk Formasi V (horizontal) menantang angin, dgn begitu mereka dapat terbang lebih cepat dan lebih jauh,,
kepakan sayap angsa di depan, mendukung kepakan sayap angsa di belakang..
si Ketua Angsa terbang di posisi paling depan, menantang angin yg paling besar tekanannya.. maka angsa2 di belakangnya selalu memberi semangat...
ketika Ketua Angsa merasa lelah, maka dia memberi isyarat dan digantikan oleh angsa di belakangnya dlm formasi yg tetap terjaga..
ketika ada salah satu angsa yg tertembak, terluka dan tertinggal dari formasi, maka setidaknya ada dua angsa yg langsung menghampiri dan melindungi Angsa yg sakit, agar si sakit tak sendiri
Ahad kemarin, kami mengikatkan lembar2an taujih di setiap angsa2 itu dan kami berikan ke setiap dari saudara kami..
ALLAH,kuatkanlah ikatan ukhuwah ini..
sepanjang masa,
melebihi batas usia kami
melebihi batas hembusan napas kami,
karena kami ingin,
kami tetap bersaudara hingga di akhirat nanti...
"...Fawatstsiqillahumma Rabitha thoha..."
Bulan ini adalah bulan ukhuwah. Banyak yg kami benahi dari diri-diri kami, atas segala keteledoranku, juga segala kelalaian kami.. semoga diampuni olehNya, Allahu Rabbi,, persaudaraan ini, sungguh tak ingin kutinggalkan
Dengan saudara2ku di FKMKI, terutama Tim Inti,, terimakasih atas segala perhatiannya,segala tangis dan tertawa, segala takbir dan istighfar...
Malam itu, setiap kenangan serta merta berkelebat: syuro2 di Mesjid Medik, MKN, Masjid Cokro, Sekret,, FKMKI FAIR, SIMPATI, F-Techs, Silaturahim Kader, dsb,
Maka tak ada waktu untuk terpuruk!!
Dengan saudara-saudara ku di Buletin Al-Tsaurah, kami mengkonsep buletin yg Brand New!!..Moga lebih baik dan lebih serrruuuu...!!
Dengan saudari-saudari ku: Akhwat2 BriGaDe 05... Launch for Ukhuwah!! Kita adalah satu jiwa dalam banyak raga
Dengan saudara2ku di Puskomda: Pekan Pendidikan FSLDK yg berlalu tanpa ada sidik jari dan jejak kaki ku di sana.. Ampuni aku ya ALLAH..
Kapan kita Syuro lagi?? kangen ku!!
Dengan saudara-saudariku di Public Health,, menuju PBL dan KKN,, ingatkan kami atas Angsa Ukhuwah itu...
Benahi diri senantiasa dengan Ibadah dan Spirit!!
Rasa Kepemilikan terhadap Dakwah, bukan Wajihah
Niat ikhlas hanya padaNYa, bukan riya'pada MakhluqNya, atau Ujub pada diri sendiri
Terus Berjuang
"... karena ladang dakwah ini, hanya akan subur oleh siraman airmata, peluh dan darah.."
"... karena taman dakwah ini, hanya akan indah oleh bunga2 ukhuwah, cinta, dan rindu padaNYA..."
Akhwat Sejati
Tulisan ini kuambil dari Blog Mas_Adhi ITB, tempat yg sama dgn tulisan Ikhwan Sejati,, isinya sangat menyentuh..selamat membaca dan semoga bermanfaat
AKHWAT SEJATI
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.
Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”
Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”. (Muslimah Sholihah)
sumber: http://sulistyaadhi.wordpress.com/2008/06/06/akhwat-sejati/
Ikhwan Sejati
Tulisan ini kubaca di blog seorang Ikhwan di ITB, karena isinya sangat menyentuh, maka kucopy ke blog-ku supaya teman2 yang mengunjungi blog-ku ini bisa membacanya juga
IKHWAN SEJATI
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”
Sang Ibu tersenyum dan menjawab….
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan.
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.
http://sulistyaadhi.wordpress.com/2008/06/06/ikhwan-dan-akhwat-sejati/
Rabu, 28 Mei 2008
Tentang Ukhuwah dan Khaulah
Malam yang gelisah, di antara seratus malam gelisahku, maka aku menulis cerita maafku dalam 3 paragraf SMS;
• Segala puji bagi Allah yg telah menghadirkan saudara-saudara sebaik kalian. Semoga Allah selalu melindungi kita dalam Islam dan menjaga kita dalam kasih sayang. Ana uhibbukunna fillah. Saudarimu, Indah
• Jika ukhuwah itu tersimpul dari pertemuan-pertemuan, maka maafkanlah diri ini yang kerap merenggangkan simpulnya. Bila jalan juang dibangun dari semangat, maka sungguh, kalian adl semangat itu. Maafkanlah diri ini karena kerap membuat kalian berkucur peluh sendiri. Doakan aku, agar tegar tak karam lagi, karena Dakwah ini adalah Bahtera yang sangat kurindu. Saudarimu, Indah
• FASHBIR ! inna wa’dallahi HAQ. Wa LAA YASTAKHIFFANKALLADZINA laa yuuqinuun (Ar-Rum: 60). Maka bersabarlah engkau! Sungguh janji ALLAH itu benar. Dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat ALLAH) itu menggelisahkan engkau. “Salam jihad selalu”. Indah “Khaulah” Fitriani
Lalu, ada balasan dari mereka;
• Akh. Yusuf: Syukron jazakillah
• Ukh. Dila KL: Inniy uhibbukalladzi ahhabtaini lahuu. Sungguh, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku karena NYA... saya juga bersyukur mendapatkan saudari sebaik anti...
• Ukh.Donty KL: Semoga ALLAH juga senantiasa melindungimu, ukhti...
• Akh. Edi FKMKI: Maksudnya? Ana tidak mengerti SMSnya, soalnya puitis sekali. Maklum anak teknik.
• Ukh. Rian K3 FKM: Amiin... tetap istiqamah di garis keyakinan... salam sayang dan keadilan dari saya untukmu teman (^_^)
• Ukh. Tian KL: Wa’alaikum salam.. Wah.. nda tau mau balas pake apa nih... kata2nya terlalu bagus, nanti malah lucu kalo saya ikutan menyair... pokoknya... FIGHTING!!
• Ukh. Radia FKMKI: Persaudaraan ini,.. tidak pernahmemberikan ruang dalam jiwa untuk bersu’udzon pd saudara, tidak ada yang men-judge anti sebagai orang bersalah kecuali anti sendiri, tapi amanah memang menuntuk kader untuk bermujahadah dalam mengembannya. Istiqomah, ukhti. Amanah menanti
• Ukh. Raran BiostatistiK: Ukh, tidak pernah ji ki merenggangkan simpul ukhuwah., yah kalo membuat kami berkucur peluh sendiri.,mmm....... lumayan.. . N terima kasih sudah mengatakan kami semangat dalam juang dakwah. N kami doakan moga dakwah yg dirindukan itu tetap ada dalam diri saudariku
• Akh. Syahban FKMKI: Iye, ane juga mohon maaf. Hari in seakan hari maaf sedunia. Sejak semalam an dapat sms terus. Sebenarnya an ingin kita semua bisa berbuat untuk FKMKI walau cuma sedikit
• Ukh. Ros Agro FKMKI: Amii...in!
• Ukh. Dila Kesling: Iya ukh, sama-sama kita saling menguatkan. Jujur saya juga butuh anti untuk tetap menapaki jalan ini. Afwan ukh, anti jangan terlalu tertutup..biarkan saudarimu ini merasakan apa yang anti rasakan entah dalam keadaan senang atau pun susah...
• Ukh. Dila KL: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada MU, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam dakwah di jalanMU, dan berjanji setia untuk membela syari’at Mu... maka kuatkanlah ikatan pertalian kami Ya ALLAH...
• Ukh. Ayu Ners: Jika kamu melihat ada benih-benih kesulitan di jalan dakwahmu yang muncul dari hati dan pikiranmu, segeralah berlindung pada ALLAH, perbaruilah keimananmu, bersihkanlah hatimu dari sifat dendam dan bersihkanlah jiwamu dari penyakit-penyakit hati. Karena semua itu termasuk tipu daya Iblis : (Fiqh Dakwah). Mari saling menguatkan, ukh. Semangat. Saudarimu, Ayu Ners
Selasa, 15 April 2008
From Aisyah 'bout a Young Man, Questions, Chruch n America
Ini kisah yang nge-'ruh' banget menurut ge... sampe ge merinding...
ini kiriman e-mail dari seorang saudariku Aisyah --akhwat malaysia-- jazakillah, ukhti..
ge pengen teman2 yg mampir di blog ini bisa ikut membacanya juga
semoga bermanfaat...
Kisah Benar Pemuda Arab Belajar di Amerika
Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampong tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula ia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.
Di saat itu, si pendeta agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata,
"Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini."
Pemuda arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata,
"Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang pendeta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim."
Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu."
Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun,pendeta ingin memanfaatkan keberadaan emuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan ugamanya. Pemuda muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.
Pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat."
Si pemuda tersenyum dan berkata,"Silakan!"
Sang pendeta pun mulai bertanya,
"Sebutkan satu yang tiada duanya,
dua yang tiada tiganya,
tiga yang tiada empatnya,
empat yang tiada limanya,
lima yang tiada enamnya,
enam yang tiada tujuhnya,
tujuh yang tiada delapannya,
delapan yang tiada sembilannya,
sembilan yang tiada sepuluhnya,
sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
sebelas yang tiada dua belasnya,
dua belas yang tiada tiga belasnya,
tiga belas yang tiada empat belasnya.
Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah
sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan
kepada Allah. Setelah membaca bismalah ia berkata,
* Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
* Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
* Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
* Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
* Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
* Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
* Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
* Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
* Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.
* Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat."(Al-An'am: 160).
* Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .
* Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
* Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
* Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).
* Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
* Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam syurga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, "tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata,"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:98)
* Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).
* Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
* Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).
* Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
* Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
* Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: ohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pun mula hendak pergi.
Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja.
Permintaan ini disetujui oleh pendeta.
Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
mendengar pertanyaan itu lidah pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil.Orang- orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia cuba mengelak.
Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapan nya, namun aku takut kalian marah."
Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "
Pendeta pun berkata, "Jawabannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Wa Aasyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.
Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)
Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah

