AHLAN WA SAHLAN....

butterfly n rose

Selasa, 22 April 2008

Separuh Hatiku di Kota Hujan


Kagami Aiko, begitu dia menamai dirinya. Meski kelahirannya berselang satu tahun sembilan bulan setelahku, tapi sungguh, ketegarannya membuatku layak dipecundangi. Aku kini mengenalnya bukan sebagai adik semata, melainkan sebagai guru yang mengajariku tentang perjuangan dalam kehidupan.
Kini teman, ijinkan aku menguraikan kisah Aiko dengan dawat airmata di diari-ku.


Bulan ini adalah hampir setahun berselang sejak berlalunya Aiko bersama deburan angin, bersama Adam Air yang membawanya jauh ke negeri seribu keajaiban, mengantarkannya ke tanah yang selalu bangga akan kesuburannya, ke pulau yang semakin lama semakin berat menahan laju kendaraan dan jamur menaranya, ke pegunungan yang lalu mengajari tentang banjir yang dia kirimkan. Bogor kata Aiko bukan lagi “Kota Hujan” melainkan “Kota Angkot”. Dan bulan ini, serta bulan-bulan yang lama berlalu, aku selalu meredam rindu.
Ingin sekali ku hikayatkan padamu, teman. Tentang tegar dirinya. Malam, pagi dan siangnya merupakan sebuah perjalanan memori untukku. Perjalanan yang menorehkan teladan yang kaya makna.
Di Pangkep dahulu, kami tidak pernah memisah kamar. Kami membagi dipan dan bantal kami, kami membagi lemari dan pakaian kami, bahkan kami membagi meja belajar dan buku kami. Itulah yang membuat kami tidak pernah merasa memiliki sesuatu sendiri melainkan bersama. Kamar bertiang kayu dan berdinding tripleks tua itu adalah milik kami bersama. Menjadi bisu pula, karena ditinggal dua penghuninya.
Neon buram dengan jelaga di ujung-ujungnya menahtakan kamar kami, namun sinarnya tentu saja tak secerah kamar anak gadis di rumah tetangga –tetap membuat kami bersyukur “Terima kasih Bapak, kamu telah membuatkan kami kamar”-- dan Aiko, selalu saja ku dapati siluetnya dari balik remang kelambu kala malam semakin larut dengan cekamnya, berteman cicak di plafon yang berdendang dengan cit cit nya.
Siluet itu selalu terjaga dengan cahaya putih di depan meja belajarnya, dia kerasan duduk di atas bangku kayunya. Menekuri buku sekolahnya, menghafal rumus matematikanya, atau membaca kisah dalam buku sejarahnya. Lalu dini harinya dia selalu terjaga lagi, menekur lagi membaca lagi. Dan yang kuherankan paginya dia membangunkanku, lalu berkata sebelum berangkat ke sekolah.
“Sebentar saya ada ujian, jadi saya mau cepat-cepat datang, mau diskusi dulu sama teman-teman karena tadi malam saya belum belajar”
Oh teman, sebegitu tekunnya Aiko-ku mempecundangi angkuhku.
Aku selalu merasa sebagai diri yang paling jawara. Anugerah kecerdasan intelektual-ku cukup membuatku berkuasa mendiktekan pelajaran sekolah kepada Aiko. Tapi rupanya kosakataku tidak cukup untuk mendiktekan padanya tentang kecerdasan emosi. Tekun dan giatnya adalah sebuah buku yang dia tuliskan dari kantung matanya yang hitam dan ringkih posturnya yang kurus.
Aiko, dia guruku. Dia separuh hatiku yang melanglang di Kota Hujan.
Aiko, dia yang kulihat terakhir kali adalah gadis kecil bersweater merah muda –sweater yang dia pesankan dengan berkata “Belikanka sweater atau jaket di Makassar untuk persiapan, di sana nanti akan lebih dingin dari Makassar”--. Gadis kecil yang ukuran badannya dua kali lebih kecil daripada teman sebayanya itu. Kini telah ku dengar kisahnya menantang dinginnya Bogor, menyapa bekunya desau angin yang menerpa tubuhnya di atas bus subuh hari kala hujan mengguyur. Aiko, sungguh tubuhnya tak sekecil tangguhnya.
Teman, Aiko guruku sedang berjuang seorang diri di sana. Merenda masa depan yang akan dia hadiahkan untuk orang tua dan keluarga. Rantaunya sempat menjadi konflik di sekolah bagi orang-orang yang iri, tapi dia mantap dengan tekadnya untuk membuktikan pada mereka –bahkan pada dunia-- bahwa dia anak yang berbakti.
Sebuah kontemplasi memori tentang Aiko merupakan slide yang tidak pernah ingin kulupa. Biar dia berjuang disana, dan aku di sini mengabadikan jejaknya dalam album nyanyian masa kecil yang ingin ku dendang selalu. Agar dia tahu, bahwa aku selalu mendamping di tepian langkahnya seterjal apapun medannya.
Teman, mari ku ceritakan padamu tentang aku dan Aiko kala senja menjelang. Kami terbiasa duduk di beranda rumah bersama Bapak seraya memandang langit yang jingga. Horison langit nampak jelas di hadapan kami, horison yang menelan matahari di atas hamparan hijau sawah.
Lalu Aiko yang masih bocah berkata pada Bapak “Pak, bagaimana kalau kita terus jalan ke sana? Apakah itu yang dibilang ujung dunia?”, katanya sambil menunjuk horison itu.
Aku menimpali sebelum Bapak sempat menjawab “Tidak dek, kata guruku ‘bumi itu bulat, tidak ada ujungnya’. Berarti kita sekarang ada di tengah bumi, jadi kalau kita terus jalan ke sana, kita bisa jatuh di langit”
Bapak hanya tersenyum mendengar ocehan kami.
Senja jingga, kami selalu menanti terbenamnya mentari, sambil memandang awan yang bergulung tebal beraneka rupa dan berujar “awan yang di sana berbentuk apa?” . Dan di senja itu juga kami selalu menanti gerombolan burung yang mengepak sayapnya beriringan. Ada banyak gerombolan yang melayang di atas kepala kami bergantian dan kami selalu berseru “coba lihat, ini yang paling banyak burungnya”
Itu Aiko dulu yang lugu, namun sekarang aku percaya dia telah menjadi sosok gadis yang lebih dewasa. Tak ku tahu bagaimana rupaya sekarang, apakah kini semakin cerah?
Selalu. Aiko cerah dengan cinta. Cintanya pada teman sekolahnya membuatnya mengoleksi puluhan sahabat yang setia. Dialah tipikal sahabat sejati yang menemani tidak hanya dalam suka, tapi duka juga.
Aiko dan cinta, adalah dua hal yang ketika berangkai maka akan selalu mengingatkanku pada rinai hujan. Karena ku tahu cintanya ada bersama rinai itu. Di malam tanggal 29 Februari kala Nusa terbiasa dengan hujan sepanjang hari, maka dia berujar tentang rinai hujan dan cinta. Lalu kami saling meningkahi hujan malam itu dengan syukur dan rindu.
“Jika hujan deras, cobalah keluar… hitung dan rasakan titik-titik air hujan yang banyak itu jatuh dari langit… maka, sebanyak itu lah saya bersyukur punya orang tua, saudara dan keluarga sebaik kalian…”
Aiko adikku. Sungguh dia adalah pujangga cinta yang menukilkan kisahnya dalam pakeliran kehidupan, hingga pakeliran itu ramai dengan lakon sastranya.
“Sungguh Aiko, ketika hatimu rindu, maka titipkanlah rindu itu pada Allah, niscaya Dia akan memeluk hatimu dan menyampaikan rindumu kepada orang-orang yang kau cintai dengan cara-cara yang Dia kehendaki. Mungkin dengan rinai-rinai hujan, atau dengan sinaran rembulan. Semoga kita saling merindu di dunia dan saling merindu syurga-Nya…. ”
Aiko, dia yang melangkah ke dewasa, menceritakan banyak cinta kepadaku. Dari pengurus masjid hingga presiden BEM. Semoga cintanya tertambat di hati pangeran yang paling mulia yang datang dengan gagah bersama laju kudanya. Yang datang bersama segerombol kafilah yang membawa beratus ekor onta. Meminang dengan Al-Qur’an dan keshalehan. Sebab dia adalah putri bermahkotakan kecantikan rupa, laku dan hati yang tidak pantas tergadai oleh cumbu rayu semata.
Aiko, dia adik yang sebagian darahnya mengalir darah yang sama denganku. Aku bersyukur atas pertalian darah ini yang akan kami bawa hingga di akhirat nanti. Dia kucintai sejak dia masih berupa alaqah di rahim ibunda. Kala umurku belum lebih setahun, aku mencintainya dengan berhenti menyusu dan berkata : “… udah, untuk dede bayi nanti”. Ku yakin, Aiko mencintaiku bahkan lebih dari itu.
Teman, ijinkan aku memahat kata untuk Aiko.
Untuk kisahnya yang selalu maknawi
Untuk tegarnya yang selalu sejati.
Untuk cintanya yang selalu putih.
Untuk wajahnya yang selalu berseri.
Untuk senyumnya yang selalu mendamaikan hati.
Lalu bacalah dan sampaikan padanya bahwa aku menanti kisahnya selalu, dan aku di sini siap menjadikannya kias prasasti yang selalu abadi di hati. Hingga ku berujar nanti:
“Separuh hatiku terpaut di Kota Hujan, kunanti hadirnya kembali untuk datang menyempurnakan mimpi. Mimpi yang selalu kami imagikan bersama”

-- Khaulah Al-Fitri untuk Dilla di Kota Hujan….

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Aktivis Lembaga Dakwah Kampus dan Peserta diskusi Forum Lingkar Pena


0 comments:

Posting Komentar

dari Goodreads